Paduan Tradisional dan Modern Jadi Daya Tarik Wisata Kuliner Yogyakarta

  • 23 Jul 2026 20:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Di lantai bawah Pasar Kranggan, aroma kipo dan legomoro menyambut pengunjung sejak pagi. Naik ke lantai atas, suasana berubah jadi wangi kaldu ramen. Dua rasa, dua generasi kuliner, berbagi atap yang sama. Perbedaan ini justru jadi daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang datang ke pasar tersebut.

Ambar (40), sudah berjualan jajanan tradisional di Pasar Kranggan lebih dari 10 tahun, meneruskan usaha keluarga yang sudah berjalan sekitar 25 tahun. Kipo khas Kotagede jadi andalan di lapaknya, berdampingan dengan lemper dan legomoro. Sebagian besar dagangannya merupakan titipan dari pembuat jajanan tradisional lain di sekitar Kotagede.

“Kalau yang khas sini ya paling kipo,” kata Ambar.

Jam ramai penjualan kini hanya berlangsung pukul 06.00 hingga 10.00 WIB, jauh berbeda dibanding sebelum pandemi Covis-19. Dagangan yang tidak habis, kemudian dijual lebih murah atau dibawa ke pasar sore agar tetap laku. Cara ini, menurut Ambar, membuat makanan tetap terjaga kualitasnya dan tidak terbuang secara sia-sia.

Pelanggan Ambar kebanyakan warga sekitar Pasar Kranggan. Wisatawan luar kota baru ramai datang saat musim liburan tiba. Meski begitu, ia mengaku tetap bersyukur karena jajanan tradisional masih memiliki peminat setia hingga sekarang.

Di lantai atas, Ganku Ramen menawarkan cerita berbeda. Kedai ini baru pindah dari Jalan Kaliurang Km 7 belum genap setahun lalu. Falen (19), pelayan di kedai tersebut, menyebut red curry dan tamago katsu sebagai menu paling laris.

“Base nya cukup pedas, tapi kalau ada yang minta tidak terlalu pedas ya saya kurangi,” kata Falen, menjelaskan fleksibilitas rasa yang ditawarkan kedainya.

Resep ramen ini hasil racikan sang pemilik yang pernah bekerja di kapal pesiar. Salah satu ciri khasnya, ramen disajikan bersama nasi, konsep yang menurut Falen sendiri masih terasa asing.

“Aku juga bingung, ramen tapi kok dikasih nasi. Mungkin biar beda sama ramen-ramen lain,” ujarnya. Meski begitu, menu ini justru menjadi pembeda kedai tersebut dari kedai ramen lain di Yogyakarta.

Berbeda dengan Ambar, pelanggan Ganku Ramen didominasi wisatawan luar kota. Falen menyebut kedai ini berencana menambahkan menu baru, meski belum ada rencana membuka cabang. Menu terbaru yang baru diluncurkan kedai ini bahkan belum genap sebulan ada di lapak mereka.

Dua lantai, dua cerita kuliner, satu pasar yang sama. Ambar bertahan dengan kipo warisan keluarga, sementara Ganku Ramen terus mencari rasa yang belum pernah dicoba pelanggannya. Di pasar Kranggan, tradisi dan inovasi ternyata bisa berbagi ruang, bahkan berbagi lantai. Keduanya menjadi bukti bahwa Yogyakarta tetap punya cara sendiri untuk menjaga warisan sambil menyambut hal baru. (Afifah/Hendrawan)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....