Mides Mbak Anik, Kuliner Legendaris Khas Bantul sejak 1962
- 23 Jul 2026 21:19 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Bantul – Aroma rempah menguar dari dapur sederhana di Jalan Parangtritis, Patalan, Jetis, Bantul. Di balik wajan panas itu, tersimpan cerita panjang sebuah kuliner tradisional yang telah menemani lidah masyarakat Bantul Selatan sejak lebih dari enam dekade silam. Mides, mi berbahan dasar tepung ketela yang kini resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mbah Pawiro, warga asli Pundong, yang pertama kali menciptakan mides pada tahun 1962. Nama "mides" bukan berasal dari kata "desa" seperti yang dikira banyak orang, melainkan singkatan dari "mi pedes" — mi pedas. Dari tangannya, resep itu diwariskan turun-temurun, hingga kini dikelola sepasang suami istri, Agus dan Anik yang mendirikan Warung Mides Mbak Anik sejak 2002.
"Ini usaha turun-temurun dari Simbok. Dulu simbahnya Mbak Anik, Mbah Pawiro namanya, yang mencetuskan mides. Sudah dituliskan di Dinas Kebudayaan Provinsi Jogja dan mendapat sertifikat Warisan Budaya Takbenda," ujar Agus saat ditemui RRI di warungnya.
Yang membuat mides berbeda dari mi pada umumnya bukan hanya soal rasa pedas, melainkan pada bahan baku. Mides dibuat dari tepung ketela dan diproses secara manual tanpa mesin pabrikan. Hasilnya adalah tekstur yang lebih kenyal dan khas, mencerminkan keaslian proses tradisional yang masih dijaga ketat hingga hari ini. Ciri khas inilah yang justru menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang pertama kali mencobanya.

Bagi Agus, mempertahankan mides bukan tanpa tantangan. Pasokan ketela dari petani yang kian tidak menentu menjadi kendala utama dalam proses produksi. Belum lagi persaingan dengan berbagai varian mi modern yang terus bermunculan seiring pesatnya perkembangan industri kuliner. Namun baginya, tekanan itu justru menjadi alasan untuk semakin teguh menjaga keaslian resep warisan leluhur.
"Tantangan di era modern ini memang ada, tapi kita tetap konsisten dengan apa yang sudah kita sajikan. Ini warisan dari simbah, tidak ada alasan untuk tidak dilestarikan," katanya.
Salah satu pelanggan asal Bantul, Fadilla, mengaku awalnya hanya ikut-ikutan teman sebelum akhirnya penasaran dan datang sendiri ke Warung Mides Mbak Anik. Ia tidak menyangka bahwa mides ini ternyata menyimpan sejarah yang begitu panjang.
"Menurutku mides menarik karena punya cita rasa dan tekstur yang khas, tidak dimiliki oleh mi kekinian lainnya. Jadi tetap layak dipertahankan sebagai kuliner tradisional, khususnya di daerah Bantul," kata Fadilla.
Di tengah tren makanan pedas yang digemari generasi muda, mides justru menjangkau lebih banyak penikmat. Warung Mides Mbak Anik kini ramai dikunjungi, tidak hanya oleh warga Bantul, tetapi juga pengunjung dari luar kota. Didukung media sosial dan layanan pemesanan online, mides bahkan hadir dalam varian instan hasil pengembangan bersama Dinas Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Bantul.
Lebih dari enam puluh tahun sejak pertama kali diciptakan Mbah Pawiro, mides tetap menjadi warisan kuliner khas Bantul yang bertahan di tengah perubahan zaman. Dengan harga mulai Rp10.000 per porsi, Warung Mides Mbak Anik terus menghadirkan cita rasa tradisional. (Fatimah/Fitriana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....