Ini Alasan Mengapa Makanan Yogyakarta Lebih Berasa Manis

  • 26 Mei 2026 22:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Masakan Jawa, khususnya Yogyakarta, memang memiliki rasa manis, seperti gudeg. Hal ini berkaitan erat dengan sejarah, budaya dan kondisi alam di Pulau Jawa. Dalam buku berjudul Antropologi Kuliner Nusantara: Ekonomi, Politik, dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara karya penulis Qaris Tajudin, diceritakan, pada masa penjajahan Belanda, sistem tanam paksa diberlakukan di berbagai daerah di Pulau Jawa, termasuk Yogyakarta.

Sistem ini mewajibkan masyarakat untuk menanam tanaman yang bernilai ekspor, salah satunya tebu. Karena tanah Yogyakarta sangat subur, banyak lahan dipakai untuk menanam tebu, bahkan lebih dari 70 persen lahan pertanian kala itu digunakan untuk tanaman tebu. Kondisi ini membuat masyarakat harus beradaptasi.

Dengan tebu yang melimpah, mereka mulai mengolahnya menjadi gula untuk konsumsi sehari-hari. Gula ini kemudian menjadi bahan utama dalam banyak makanan, dan akhirnya membentuk kebiasaan masyarakat Jogja dalam memasak makanan yang manis.

Menariknya, gula dari tebu saat itu tidak hanya menjadi bagian dari makanan sehari-hari, tapi juga menjadi simbol perlawanan masyarakat terhadap penjajah. Mereka memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk tetap bertahan hidup, meski dalam kondisi sulit. Filosofi ini masih terasa sampai sekarang, di mana makanan manis menjadi bagian penting dari identitas budaya Yogyakarta.

Pengaruh alam dan gula kelapa

Kondisi alam di Pulau Jawa, khususnya wilayah pesisir, sangat mendukung pertumbuhan pohon kelapa. Masyarakat pun memanfaatkan pohon ini dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan mengolah nira kelapa menjadi gula merah atau gula Jawa.

Ketersediaan bahan manis inilah yang mendorong masyarakat untuk membiasakan diri memasukkan gula ke dalam berbagai masakan dan minuman, termasuk dalam sayur, lauk, hingga jajanan tradisional.

Penggunaan gula kelapa dalam jumlah banyak membuat rasa manis menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner Jawa. Bahkan, warna cokelat keemasan pada banyak masakan tradisional khas Jogja pun berasal dari pemakaian gula ini.

Simbol kebudayaan

Dalam budaya Jawa, rasa manis tak hanya sekadar rasa, tetapi juga simbol dari keindahan dan kasih sayang. Hidangan manis sering kali disajikan dalam upacara adat, pernikahan, dan momen bahagia lainnya sebagai simbol kebahagiaan dan doa untuk masa depan yang manis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....