RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kue jadah manten atau semar mendem menjadi salah satu jajanan tradisional khas yang patut dicicipi ketika berkunjung ke Yogyakarta. Kue jadah manten merupakan jajanan tradisional yang terbuat dari bahan dasar ketan, santan, dan daging sebagai isiannya.
Bentuk jadah manten memiliki kemiripan dengan lemper, namun ada sedikit perbedaan antara kedua jenis jajanan tradisional ini, khususnya pada proses pembuatan dan kulit pembungkusnya.
Nama dari jadah manten sendiri diambil dari fungsi kudapan tersebut di tengah masyarakat. Jajanan tradisional ini sering kali menjadi salah satu seserahan yang diberikan pada saat momen pernikahan adat Jawa.
Dikutip dari buku Redy Kuswanto berjudul Jajanan Pasar Khas Yogyakarta, penamaan ini sesuai dengan definisi dari jajanan tersebut, yang berarti "Makanan yang bisa dijadikan bahan bawaan pengantin pria untuk pengantin wanita." sehingga jajanan ini kemudian diberi nama jadah manten.
Berdasarkan Database Kebudayaan Dinas Kebudayaan DIY, jadah manten diketahui sudah berkembang dan populer di tengah masyarakat sejak abad ke-10. Nama kudapan ini juga diketahui disebut dalam kitab Kidung Harsa Wijaya.
Dulunya kue jadah manten hanya dinikmati di kalangan keraton saja. Bahkan kudapan ini menjadi salah satu jajanan tradisional yang digemari oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Hal ini membuat resep dari kue jadah manten hanya diketahui oleh kalangan tertentu. Pada waktu itu tidak semua orang dapat menikmati kudapan yang memiliki cita rasa gurih tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, kue jadah manten sudah bisa dinikmati oleh siapa saja dan bisa dijumpai di beberapa acara penting , seperti di acara perkawinan dan acara penting lainnya.
Jadah manten disajikan dengan cara dibungkus dadar telur tipis, diisi suwiran ayam gurih, dan dijepit belahan bambu kecil. Hidangan tradisional ini dipanggang hingga kecoklatan di atas teflon atau arang, sehingga memberikan aroma harum dan tekstur sedikit garing di luar namun lembut di dalam. Belahan bambu melambangkan pasangan pengantin yang dipertemukan, dan ketan yang lengket melambangkan harapan agar hubungan rumah tangga harmonis dan lengket selamanya.