Waroeng Kopi Klotok, Pengunjung Merasa Pulang ke Rumah Nenek

  • 06 Mar 2026 09:19 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Konsep warung tradisional dengan dapur dan penyajian khas kampung semakin digemari masyarakat. Pengunjung akan merasakan suasana nostalgia, serasa dirumah nenek saat pertama kali melangkahkan kaki ke warung ini. Aroma masakan ndeso, disertai suara angin semilir yang berhembus dari arah sawah, menghadirkan perasaan nyaman dan kerinduan terhadap keluarga di rumah.

Salah satu warung yang mengusung konsep tradisional yaitu Waroeng Kopi Klotok. Meski lokasinya sekitar 16 km dari pusat kota Jogja, namun para pengunjung rela menempuh perjalanan dan menerobos perkampungan demi merasakan sensasi tradisional di warung ini.

Sabir, salah seorang pengunjung Waroeng Kopi Klotok, kamis 5 Maret 2026 mengungkapkan, meski baru pertama kali berkunjung ke tempat ini, ia langsung merasa jatuh hati. Mahasiswa asal Aceh ini kagum dengan konsep penyajian makanan dan penataan warung tradisional dengan bangunan dan perabotan kuno yang masih orisinil.

“Nggak sia-sia saya motoran jauh-jauh, begitu tiba disini rasanya seperti pulang ke rumah nenek di kampung, padahal masakannya sederhana, tapi semua masih hangat, jadi terasa nikmat”, ujarnya.

Di tengah maraknya kafe modern dengan konsep kekinian, Kopi Klotok Jogja tetap berdiri kokoh sebagai salah satu tempat makan dan ngopi yang tak pernah kehilangan pengunjung. Berlokasi di daerah Pakem, Sleman, tak jauh dari kaki Gunung Merapi, membuat tempat ini menjadi destinasi favorit bagi warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Bukan sekadar tempat makan, Kopi Klotok menjelma menjadi simbol kebanggaan akan budaya kuliner Jawa yang sederhana namun mengena. Setiap hari, terutama akhir pekan, antrean panjang sudah menjadi pemandangan biasa. Pengunjung datang silih berganti sejak pagi hingga sore hari dan rela mengantri demi menikmati sepiring nasi megono, sayur lodeh, tempe garit, telur dadar rawis, dan secangkir kopi klotok panas yang dimasak dengan cara direbus di atas tungku.

Kopi klotok sendiri bukan sekadar kopi biasa. Proses pembuatannya yang menggunakan panci dan dimasak hingga mendidih sehingga menciptakan sensasi rasa yang khas, jauh dari cita rasa kopi instan atau mesin espresso. Dihidangkan bersama camilan seperti pisang goreng atau jadah goreng.

Salah satu pelayan di kopi Klotok mengungkapkan, warung ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Mulai dari petani lokal yang menyuplai sayuran segar, hingga ibu-ibu yang memasak di dapur menggunakan tungku kayu. Semua dilakukan dengan prinsip gotong royong dan kekeluargaan sehingga memperkuat ikatan sosial di masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....