Filosofi Luhur dari Legitnya Roti Kembang Waru Pak Bas
- 31 Jan 2026 05:38 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Main ke Purbayan rasanya kurang lengkap kalau tidak mampir mencicipi camilan legendaris peninggalan zaman kejayaan Kerajaan Mataram Islam dulu. Pak Basiran atau Pak Bas bersama istrinya Bu Gidah sudah setia memproduksi roti manis ini sejak tahun delapan puluh tiga.
Toko rotinya unik karena berada di samping rumah dan malah terlihat seperti toko kelontong sederhana daripada sebuah toko roti. Pasangan suami istri ini adalah generasi ketiga yang tetap teguh menjaga resep asli supaya warisan budaya tidak hilang ditelan zaman.
Roti yang berbentuk bulat dengan delapan sisi unik ini ternyata punya pesan moral sangat dalam tentang gaya kepemimpinan seorang manusia. Delapan sisi itu mewakili unsur alam yaitu tanah air angin api matahari bulan bintang serta langit dalam ajaran jawa.
Dari situ Pak Bas juga berpesan, jika menjadi seorang pemimpin bisa meniru sifat delapan unsur alam tersebut pasti dia bakal jadi sosok berwibawa yang sangat mengayomi. Sejarahnya dulu bunga waru dipilih jadi inspirasi karena cetakannya jauh lebih gampang dibikin daripada bentuk bunga mawar atau kenanga.

Pak Bas dan Bu Hidang saat memproduksi Roti Kembang Waru di Kotagede Yogyakarta (Foto:Gilang)
“Bunga waru itu lebih mudah dibuat dibandingkan bunga kenanga ataupun bunga mawar walaupun bentuknya tidak seratus persen mirip aslinya,” kata Pak Bas Sabtu 31 Januari 2026. Menurutnya semua roti punya ukuran sama karena dicetak dengan cetakan khusus yang terbuat dari besi.
“Saya memang tidak mau cari pegawai karena watak orang bisa berubah dan niat saya cuma ingin melestarikan roti ini,” ucapnya. Diungkapkan bahwa dirinya tidak mengejar untung besar karena tujuan utamanya adalah menjaga supaya kuliner khas ini tidak punah begitu saja.
Dari segi rasanya sendiri, menurut Yustika salah satu pembeli, untuk teksturnys empuk dan saat dimakan roti kembang waru menciptakan rasa nostalgia terhadap jajanan pasar tradisional. "Rasanya manis semuanya terasa pas sehingga tidak membuat eneg,"ucapnya.
Setiap hari pasangan sepuh ini sudah mulai sibuk di dapur sejak puku 04:00 pagi untuk menyiapkan adonan roti yang lezat. Produksi mereka paling banyak 350 biji saja karena semuanya masih dikerjakan manual pakai tangan sendiri.
Pak Bas punya prinsip ogah menitipkan rotinya ke warung lain karena yakin kalau pelanggan yang butuh pasti akan datang sendiri. Terbukti banyak orang rela blusukan ke gang sempit Kotagede hanya untuk mencari keaslian rasa roti tersebut.
Dulu pohon waru banyak tumbuh di Pasar Legi dengan pohon gayam yang rimbun saat Kotagede jadi pusat pemerintahan Mataram. Walau pohon aslinya sekarang sudah jarang kita temui tapi bentuk cantiknya tetap abadi dalam tiap gigitan roti yang super lembut.
Roti Kembang Waru ini bukan cuma soal rasa manis tapi juga identitas sejarah yang harus kita dukung supaya terus bertahan. Perjuangan Pak Bas dan Bu Gidah dalam merawat tradisi kuliner lokal yang sangat berharga bagi kita yaitu roti kembang waru. (Gilang Kinantyo Rahmat)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....