Angkringan Pak Ompong Hadirkan Cita Rasa Tradisional Yogyakarta
- 20 Okt 2025 20:00 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Di tengah hiruk pikuk Kota Yogyakarta, tepatnya di kawasan Bumijo, Jetis, berdiri sebuah angkringan legendaris yang telah menjadi saksi perjalanan kuliner selama lebih dari tiga dekade “Angkringan Pak Ompong”. Warung sederhana milik Pak Yanto, yang akrab disapa Pak Ompong, ini berdiri sejak tahun 1994 dan masih mempertahankan nuansa tradisional khas angkringan tempo dulu. “Sebenarnya dulu mulai tahun 1990, tapi waktu itu masih dikelola Pak Ngaino, lalu tahun 1994 baru saya teruskan,” ujar Pak Yanto saat ditemui di warungnya.
Berbeda dengan angkringan pada umumnya, Pak Ompong menghadirkan menu khas yang membuat pengunjung selalu kembali.“Dulu cuma angkringan biasa, belum pakai nasi sayur. Sekarang sudah ada sop, kadang lodeh atau asem-asem,” katanya. Selain itu, nasi sayur salah satu keistimewaannya dan ada juga sambal gratis menjadi pelengkap yang membuat pengunjung merasa seperti makan di rumah sendiri.
Tak hanya soal rasa, kesederhanaan dan kehangatan suasana di Angkringan Pak Ompong juga menjadi alasan pelanggan setia terus berdatangan. Salah satunya Mardianto, seorang pekerja yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan tetap. “Saya sering sarapan dan makan siang di sini. Kalau nggak sarapan ya makan siang, paling tidak sehari mesti ke sini. Murah meriah dan bikin kenyang,” ujarnya sambil menikmati sepiring nasi sayur dan segelas wedang hangat.
Menu andalan di angkringan ini cukup beragam, ada bakwan, sate-satean, bacem, nasi kucing, dan wedang hangat yang menemani suasana malam di Yogyakarta. Beberapa menu seperti gorengan merupakan titipan dari penjual lain. Sementara nasi, baceman, dan sayur merupakan olahan buatan Pak Yanto sendiri. “Yang punya saya itu nasi, bacem-baceman, sama sayurnya. Gorengan ada yang nitip,” katanya sembari melayani pelanggan.
Angkringan Pak Ompong buka mulai pukul 09.00 WIB pagi hingga waktu magrib. Meski tak buka hingga malam seperti angkringan lainnya, tempat ini tak pernah sepi pembeli. Setiap jam selalu ada pengunjung yang datang untuk menikmati sajian sederhana namun penuh cita rasa. Harga makanan pun masih sangat bersahabat. “Nasi sayur tujuh ribu, kalau pakai sayap dua belas ribu. Wedang tiga ribuan saja,” ucap Pak Yanto sambil tersenyum.
Lebih dari sekadar tempat makan, Angkringan Pak Ompong telah menjadi bagian dari keseharian warga sekitar dan penikmat kuliner tradisional. Di bawah cahaya temaram lampu minyak dan aroma masakan yang menggoda, angkringan ini menghadirkan kehangatan dan nostalgia. Di tengah gempuran kafe modern, Pak Ompong tetap setia menjaga warisan rasa yang telah menempel di hati banyak orang sejak puluhan tahun lalu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....