Soto Bu Yanti, Rasa Jadul di Pasar Beringharjo
- 31 Agt 2025 22:53 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta: Di tengah ramainya aktivitas Pasar Beringharjo, ada satu sudut kuliner yang tak pernah sepi pelanggan: Warung Soto Bu Yanti. Berdiri sejak awal tahun 1990-an setelah pindah dari Pasar Sri Medani, warung ini tetap setia menyajikan aneka hidangan khas Jawa yang menggugah selera, dari soto sapi dan ayam kampung hingga oseng-oseng Grendel, oseng oseng mercon dan lodeh kembang gedang.
“Ini sebetulnya sebelum di Beringharjo, dulu di Pasar Sri Medani sekitar tahun 1980-an. Setelah pasar digusur, kita pindah ke sini sekitar tahun 1990,” ucap Sony, anak dari Bu Yanti, sang pemilik warung yang kini ikut mengelola usaha keluarga tersebut.

Warung Soto Bu Yanti, kuliner di pasar Beringharjo.(Foto:dok.Kerin)
Warung Soto Bu Yanti dikenal bukan hanya karena sotonya yang legendaris, tapi juga karena menu-menu khas rumahan yang kini semakin sulit ditemui, seperti oseng genjer, oseng grendel, dan lodeh kembang gedang. “oseng-oseng grendel, terus ada oseng-oseng genjer, terus ada lagi lodeh kembang gedang. Nah, itu kita ciri khasnya seperti itu. Jadi kalau orang-orang Jakarta atau orang-orang yang dulu merantau di luar Jogja itu pasti dia kangen dengan masakan masakan itu,” ucap Sony, Minggu (31/8/2025).
Segmen pelanggan warung ini pun cukup beragam. Kaum muda biasanya menyukai hidangan pedas seperti oseng mercon atau rica-rica ayam, sedangkan pelanggan berusia lanjut lebih memilih menu-menu klasik yang mengingatkan pada kampung halaman.
“kalau yang muda Dia biasanya yang itu yang sudah legend di sini soto biasanya seperti itu. Kalau enggak itu dia suka kayak yang pedes-pedes, seperti oseng-oseng mercon atau rica-rica itu mereka suka seperti itu. Kalau yang orang-orang tua yang sudah merantau di luar Jogja itu dia carinya itu yang makanan-makanan yang jadul itu,” ujarnya.

Warung Soto Bu Yanti, kuliner di pasar Beringharjo. (Foto: dok.kerin)
Meski tampil sederhana, pengelolaan Warung Soto Bu Yanti cukup sistematis. Salah satu indikator ramainya pengunjung terlihat dari jumlah beras yang ditanak setiap hari. “Kalau hari biasa, kita masak sekitar 10–15 kilogram nasi. Tapi kalau akhir pekan atau musim liburan bisa sampai 25 kilo,” ujar Sony.
Kecintaan terhadap cita rasa otentik membuat pelanggan setia terus berdatangan. Salah satu pengunjungnya adalah ibu Umi, “Yang paling saya cari kalau ke Pasar Beringharjo ini ya Soto Bu Yanti. Sudah langganan.” Bu Umi menambahkan. “Kalau enggak sepadan dengan harganya, enggak ke sini lagi sudah cocok.”
Warung yang kini dikelola oleh generasi kedua ini tetap melibatkan Bu Yanti sebagai koki utama. Pengalaman Bu Yanti yang sudah lama terjun di dunia catering membuat sajian di warung ini konsisten dari masa ke masa.
“Ini masih ada ibu saya, yang jual itu kan ibu saya. Kalau saya ini sudah generasi kedua tapi saya ikut istilahnya ikut memanage. Tapi yang utama kan ibu saya. Ibu saya itu berpengalaman dari zaman dulu dia sudah ikut catering. Jadi, sudah tahu. Terutama masakan-masakan Jawa, dia sudah tahu,” kata Sony.
Tak hanya menyajikan makanan, warung ini juga menjadi bagian dari pengalaman wisata kuliner di Beringharjo. “Selain makan di sini, bisa lanjut beli oleh-oleh di lantai atas, seperti gula batu, emping, dan sambal pecel,” ujar bu Umi.
Dengan keunikan menu dan cita rasa yang konsisten, Warung Soto Bu Yanti tak hanya menjadi tempat makan, tapi juga penjaga warisan kuliner Jogja yang terus hidup di tengah modernitas kota. (Kerin Susilandari)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....