Pentingnya Mengetahui Kualitas Air

  • 03 Jul 2024 14:32 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Berdasar studi kualitas air minum rumah tangga nasional yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada 2020, akses terhadap air minum dengan derajat paling aman baru sekitar 11-12 persen. Menurut Dr. Daniel, M.Sc., pada podcast Tropmed Talk terbaru, tayang Selasa (2/7/2024), yang mengangkat tema tentang air sehat, pemerintah menargetkan angkanya naik menjadi 15 persen pada tahun ini.

Dr. Daniel merupakan dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan dan Kedokteran Sosial Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM. Target global yang tertuang dalam sustainable development goals (SDG’s) poin 6.1 tentang air menargetkan semua orang di muka bumi mempunyai akses ke air minum aman. “Arti aman itu ya tersedia 24 jam dan mudah diakses,” ujarnya.

Indonesia menghadapi tantangan yang kompleks dalam mewujudkan hal tersebut dengan faktor geografis sebagai tantangan utamanya. Investasi besar untuk layanan air dan sanitasi menjadi beban tersendiri bagi negara ini jika tidak didukung keterlibatan sektor swasta.

Berbicara tentang air yang aman, Dr. Daniel mengungkapkan bahwa air yang jernih belum tentu aman. “Bisa jadi ada patogen-patogen di dalamnya,” ucap Dr. daniel.

Dari sisi biologis banyak patogen yang mungkin terkandung dalam air dan menyebabkan banyak penyakit. Diare, kolera, dan water borne disease (penyakit yang disebabkan oleh kualitas air yang buruk) lainnya merupakan beberapa contohnya. Selain parameter biologis, keamanan air juga harus diuji dari parameter lainnya seperti kimia dan fisika.

Karenanya, penting untuk mengetahui kualitas air yang biasa digunakan. Dr. Daniel menganjurkan masyarakat untuk membawa sampel air yang digunakan untuk diperiksa di laboratorium. “Boleh dari kran, sumur, atau dari galon yang biasa dikonsumsi,” ucapnya.

Menurutnya, seluruh puskesmas di Yogyakarta sudah bisa melakukan uji untuk mengetahui kualitas air. Dengan mengujinya, bisa ditentukan perlakuan (treatment) yang tepat sebelum mengonsumsinya. Lebih lanjut Dr. Daniel menjelaskan bahwa dua air yang paling lazim dikonsumsi adalah air galon dan air sumur atau PDAM.

Ia menyampaikan bahwa biasanya air galon sudah aman dari sisi kimia dan fisikanya. Namun, ia menganjurkan masyarakat untuk tetap memasaknya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi. Atau sebagai tindakan kehati-hatian lainnya adalah menyaringnya menggunakan filter-filter yang kini sudah banyak dijual secara komersial. Adapun jika mengonsumsi air sumur atau PDAM, memasaknya hingga matang mutlak perlu untuk dilakukan.

Meski demikian, tidak serta merta air menjadi aman untuk dikonsumsi setelah dimasak hingga matang. Higienitas menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Perlu diperhatikan wadah-wadah yang digunakan harus terjaga kebersihannya. Selain itu, tempat dan cara penyimpanannya juga harus aman.

Perbincangan dalam podcast kemudian menyinggung kondisi pengelolaan sampah yang sedang menjadi permasalahan di Yogyakarta. Dr. Daniel menyampaikan bahwa sistem pembuangan sampah yang digunakan saat ini adalah open dumping.

“Jadi sampah hanya ditumpuk dan dibiarkan begitu saja,” jelasnya.

Sistem pembuangan ini akan menghasilkan air lindi, senyawa-senyawa kimia berupa cairan yang berasal dari plastik atau zat-zat kimia berbahaya yang terkandung di dalam sampah. Senyawa ini akan terus turun ke dalam tanah dan mempengaruhi kualitas air di sekitarnya. Berbeda dengan patogen biologis yang akan mati tersaring oleh bebatuan alami yang ada di dalam tanah sebelum ia mencapai sumber air.

Oleh karena itu, Dr. Daniel menyarankan kepada masyarakat yang tinggal dekat dengan tempat pembuangan akhir (TPA) untuk tidak mengonsumsi air yang berasal dari sumur. Dikhawatirkan sumber air tersebut telah tercemar senyawa-senyawa yang berbahaya.

“Jika ada akses ke air PDAM, lebih baik menggunakan itu untuk dikonsumsi,” kata Dr. Daniel.

Bahkan untuk keperluan lain seperti mandi dan cuci pun Dr. Daniel menganjurkan untuk menggunakan air yang tidak bersumber dari sumur di dekat TPA. Hal tersebut merupakan langkah kehati-hatian agar terhindar dari dampak buruk dari kualitas air yang tidak sehat. (ratih/par)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....