Waspada Keracunan Saraf Mata akibat Paparan Zat Berbahaya
- 07 Okt 2026 08:31 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Seman - Keracunan saraf mata menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan penglihatan hingga kerusakan permanen. Hal tersebut disampaikan dokter spesialis mata, dr. Widyandana, MHPE, Ph.D, Sp.M(K), dalam dialog program Jaga Malam “Komunitalks” yang disiarkan melalui RRI Pro 2 Jogja, Jumat 25 September 2026.
Dalam dialog yang berlangsung di Studio Pro 2 Jogja tersebut, dr. Widyandana menjelaskan bahwa keracunan saraf mata merupakan kerusakan pada saraf optik, yakni jalur yang menghubungkan mata dengan otak. Kerusakan tersebut dapat dipicu paparan zat beracun, penggunaan obat tertentu, maupun kekurangan nutrisi, sehingga penurunan penglihatan yang terjadi tidak dapat sekadar dikoreksi menggunakan kacamata.
Menurutnya, sejumlah bahan dapat memicu keracunan saraf mata. Salah satunya adalah metanol yang dapat ditemukan dalam minuman keras oplosan, spiritus, maupun cairan pembersih. Selain itu, beberapa obat seperti Etambutol untuk pengobatan tuberkulosis (TBC), Kloramfenikol, Linezolid, dan Amiodaron juga perlu diperhatikan apabila digunakan dalam dosis tinggi atau jangka panjang. Paparan logam berat seperti timbal, merkuri, sianida serta bahan kimia industri seperti pestisida, thinner, lem, dan cat juga dapat menjadi faktor risiko.
Ia menambahkan, kombinasi kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta kekurangan vitamin B1, B12, dan asam folat turut meningkatkan risiko gangguan pada saraf mata. Gejala awal yang perlu dicermati antara lain pandangan buram pada kedua mata seperti berkabut, kesulitan membedakan warna terutama merah dan hijau, serta warna yang terlihat semakin pudar. Kondisi tersebut juga dapat disertai bercak gelap atau area kosong di bagian tengah pandangan.
Pada kasus keracunan akibat metanol, keluhan dapat muncul sekitar 12 hingga 24 jam setelah konsumsi. Gangguan penglihatan biasanya dapat disertai gejala lain seperti mual, pusing, dan sesak. Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap gangguan penglihatan secara tiba-tiba sebagai keluhan mata biasa, terutama jika sebelumnya terdapat riwayat konsumsi zat atau paparan bahan yang berpotensi beracun.
Untuk pemeriksaan awal di rumah, masyarakat dapat melakukan tes sederhana dengan menutup mata secara bergantian guna melihat apakah terdapat perbedaan kepekatan warna antara mata kanan dan kiri. Namun, pemeriksaan tersebut bukan pengganti pemeriksaan medis. Dokter mata dapat melakukan pemeriksaan tajam penglihatan, tes buta warna Ishihara, pemeriksaan saraf mata menggunakan oftalmoskop, pemeriksaan lapang pandang, hingga Optical Coherence Tomography (OCT) untuk mengukur kondisi dan ketebalan saraf mata.
Dalam penanganan awal, paparan terhadap zat yang dicurigai harus segera dihentikan. Apabila terpapar uap atau bahan kimia, korban perlu dipindahkan ke udara segar dan mata dibilas menggunakan air bersih mengalir selama sekitar 15 menit. Jika terdapat dugaan mengonsumsi minuman keras oplosan yang mengandung metanol, pasien harus segera dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) tanpa menunggu hingga gangguan penglihatan muncul. Contoh bahan atau obat yang dikonsumsi juga sebaiknya dibawa ke rumah sakit untuk membantu proses identifikasi.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak melakukan penanganan secara sembarangan. Memijat mata, meneteskan obat tanpa resep, maupun memberikan susu atau madu sebagai penawar bukan langkah yang dianjurkan. Terapi harus disesuaikan dengan penyebab keracunan dan dilakukan berdasarkan penilaian tenaga medis. Pada kasus tertentu, penanganan dapat meliputi penghentian zat penyebab, detoksifikasi, pemberian penawar, suplementasi vitamin B1, B12 dan asam folat, hingga cuci darah pada keracunan metanol.
Menurut dr. Widyandana, peluang pemulihan sangat dipengaruhi oleh kecepatan penanganan. Jika kondisi terdeteksi pada minggu pertama ketika saraf masih mengalami pembengkakan, peluang perbaikan penglihatan dinilai lebih besar. Sebaliknya, apabila saraf mata sudah mengalami kepucatan dan penipisan selama lebih dari satu bulan, kerusakan cenderung bersifat permanen sehingga penanganan lebih diarahkan untuk mencegah kondisi semakin memburuk serta membantu rehabilitasi penglihatan.
Pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari minuman keras oplosan maupun alkohol yang tidak jelas sumbernya. Pasien TBC yang mengonsumsi Etambutol juga perlu menjalani kontrol rutin dan pemeriksaan mata sesuai anjuran dokter. Sementara itu, pekerja bengkel, pengelasan, dan servis aki dianjurkan menggunakan alat pelindung seperti kacamata dan masker, sekaligus mengurangi kebiasaan merokok dan membatasi konsumsi alkohol serta memenuhi kebutuhan nutrisi, termasuk vitamin B12 dari telur, daging, susu, dan sayuran hijau.
Ia menegaskan, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami pandangan buram mendadak pada kedua mata setelah mengonsumsi minuman keras oplosan, setelah terpapar bahan kimia industri, atau ketika sedang menjalani pengobatan TBC dengan obat yang berisiko memengaruhi saraf mata. Gangguan penglihatan pada kedua mata yang berlangsung lebih dari dua hari dan disertai perubahan kemampuan membedakan warna juga sebaiknya diperiksakan langsung kepada dokter mata, bukan hanya dibawa ke optik. “Semakin cepat penyebabnya diketahui dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah kerusakan saraf mata menjadi permanen,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....