Binge Eating Disorder Dapat Disembuhkan, Kenali Tanda dan Cara Mengatasinya
- 30 Sep 2026 21:10 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menunggu semua orang di rumah tertidur hanya untuk bisa makan dalam porsi raksasa secara diam-diam, lalu menangis sejadi-jadinya karena diliputi rasa jijik dan penyesalan yang luar biasa. Bagi sebagian orang, khususnya remaja, siklus menyiksa ini bisa jadi gejala dari Binge Eating Disorder (BED), sebuah gangguan perilaku makan yang ditandai dengan kebiasaan makan berlebihan secara berulang tanpa kendali.
Melalui kanal YouTube-nya, dr Saddam Ismail menegaskan bahwa BED adalah kondisi medis yang sangat bisa disembuhkan, asalkan penderitanya berani mengambil langkah awal untuk mencari bantuan.
Secara medis, otak remaja yang sedang kewalahan menanggung beban emosional berat dapat membajak sirkuit kendali rasa kenyang di dalam tubuh. Makanan kemudian dijadikan pelarian instan untuk meredakan rasa sedih, cemas, atau tekanan yang tidak tertahankan.
Dorongan tersebut begitu kuat hingga penderita benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dampaknya pun tidak hanya terasa pada perut yang tersiksa secara fisik. Rasa malu yang ekstrem perlahan mendorong penderita untuk menarik diri dari pergaulan, hingga terjebak dalam isolasi sosial yang justru memperburuk kondisi mental mereka.
dr. Saddam menjelaskan bahwa untuk mendiagnosis BED, episode makan berlebihan yang disertai perasaan hilang kendali umumnya terjadi minimal sekali seminggu selama tiga bulan berturut-turut. Diagnosis ini dilakukan melalui wawancara mendalam oleh tenaga profesional untuk menelusuri:
- Pola dan perilaku makan harian.
- Gejala emosional dan psikologis yang menyertai.
- Riwayat kesehatan mental penderita secara menyeluruh.
BED bukanlah kondisi yang harus ditanggung sendirian dalam diam. Gangguan ini dapat diobati dan gejalanya bisa dikelola secara efektif melalui penanganan medis yang tepat dari psikiater, psikolog, atau dokter spesialis yang berpengalaman.
Hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa BED bukan cerminan kurangnya kontrol diri. Menghakimi penderita justru akan memperparah kondisi mereka. Sebaliknya, berempati dan mendampingi mereka untuk menemui profesional adalah langkah terkuat sekaligus titik balik menuju kesembuhan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....