Mengenal 2 Fase Bipolar Disorder Remaja yang Wajib Diketahui Orang Tua

  • 29 Sep 2026 22:25 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Hampir semua remaja pasti pernah mengalami perubahan suasana hati. Pagi hari bisa ceria, namun sore harinya bisa menangis hanya karena bertengkar dengan teman. Hal ini sangat wajar karena sistem hormon pada anak remaja sedang berkembang.

Namun pada penderita bipolar disorder, perubahan emosi terjadi jauh lebih ekstrem dan berlangsung sangat lama, bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Bipolar disorder adalah kondisi medis yang membuat penderitanya seolah hidup di antara dua fase emosi yang saling bertolak belakang, dan memahami kedua fase ini adalah langkah pertama yang penting agar orang tua tidak salah membaca kondisi yang sedang dialami anak remaja.

Melalui kanal YouTubenya, dr. Saddam Ismail menjelaskan bahwa fase pertama yang dikenal dalam bipolar disorder adalah fase mania, di mana penderita tampak memiliki energi yang meluap-luap tanpa batas. Pada fase ini, remaja merasa sangat bahagia, percaya diri berlebihan, dan merasa mampu melakukan apa saja.

“Ciri fisiknya sangat jelas, mereka bisa tidak tidur berhari-hari tapi tetap merasa bugar. Mereka juga berbicara dengan sangat cepat sampai lawan bicaranya itu kebingungan untuk memotong pembicaraan mereka,” Ucap dr. Saddam.

Sayangnya energi yang berlebihan tersebut menyimpan bahaya tersendiri, karena kemampuan otak untuk berpikir logis justru terganggu. Akibatnya, penderita cenderung bertindak impulsif seperti tiba-tiba menghamburkan uang tabungan, mengemudi dengan ugal-ugalan, atau melakukan tindakan berbahaya lainnya karena penderita merasa hebat dan tidak terkalahkan.

Setelah energi pada fase mania habis, penderita akan terhempas ke fase kedua yang jauh berbeda yakni episode depresi. Di fase ini, remaja merasa energinya terkuras habis total, diselimuti kesedihan mendalam, merasa tidak berharga, dan kehilangan minat pada semua hal yang biasanya mereka sukai.

Dr. Saddam Ismail menjelaskan bahwa pada titik terendah fase depresi ini, pikiran gelap untuk menyakiti diri sendiri atau bahkan mengakhiri hidup bisa muncul dengan sangat kuat.

Secara medis, ayunan emosi yang tidak terkendali ini disebabkan oleh sistem sirkuit komunikasi di dalam otak. Otak memiliki zat kimia pemohon pesan yang bernama neurotransmitter seperti dopamine, serotonin dan juga noradrenalin.

Pada remaja dengan bipolar disorder, terjadi kerusakan keseimbangan yang sangat parah pada zat kimia tersebut. Ketika dopamin dan noradrenalin meluap berlebihan, episode mania terjadi, sebaliknya ketika kadar serotonin dan dopamin anjlok drastis, penderita langsung terhempas ke dalam fase depresi. Ayunan zat yang tidak stabil inilah yang membuat fisik dan mental penderita bipolar disorder terus-menerus kewalahan menghadapi emosinya sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....