Stres dan Gawai Pangkas Fokus Manusia Jadi Pendek

  • 30 Sep 2026 11:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Rentang perhatian atau attention span manusia di era digital dilaporkan semakin pendek dan disebut berada di kisaran delapan detik. Kondisi tersebut tidak hanya dikaitkan dengan derasnya paparan media sosial dan penggunaan perangkat digital, tetapi juga tekanan psikologis berupa stres dan kecemasan yang dapat mengganggu kemampuan seseorang mempertahankan konsentrasi.

Survei terbaru dari The Ohio State University Wexner Medical Center menunjukkan stres dan kecemasan menjadi faktor yang paling banyak dikaitkan dengan kesulitan berkonsentrasi, yakni sebesar 43 persen. Faktor berikutnya adalah kurang tidur sebesar 39 persen, sedangkan penggunaan perangkat digital tercatat sebesar 35 persen. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan fokus tidak semata-mata berkaitan dengan kebiasaan menggunakan gawai.

Psikiater dari Ohio State University, dr Evita Singh, menjelaskan pikiran yang terus-menerus dipenuhi kecemasan atau mengalami pola ruminating dapat membebani kapasitas mental seseorang. Otak harus menggunakan sebagian sumber dayanya untuk memproses kekhawatiran berulang sehingga ruang untuk mempertahankan perhatian terhadap pekerjaan atau aktivitas lain menjadi lebih terbatas. “Ketika pikiran terus disibukkan oleh kecemasan, kemampuan untuk memberikan perhatian penuh pada aktivitas yang sedang dilakukan dapat ikut terganggu,” ujarnya.

Kondisi tersebut dapat semakin berat ketika seseorang terbiasa melakukan multitasking, terutama saat menggunakan perangkat digital. Kebiasaan berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain, memeriksa pesan, melihat notifikasi, sekaligus menyelesaikan pekerjaan membuat perhatian terus terpecah. Alih-alih meningkatkan produktivitas, pola tersebut justru dapat membuat otak lebih cepat lelah dan menyulitkan seseorang mempertahankan konsentrasi dalam waktu lama.

Untuk membantu membangun kembali kemampuan fokus, Singh merekomendasikan pendekatan TAKE FIVE. Metode ini mencakup Take frequent breaks atau mengambil jeda secara berkala, Actively engage dengan berkonsentrasi pada satu pekerjaan, Keep distractions minimal dengan mengurangi gangguan di sekitar, serta Eliminate multitasking atau menghentikan kebiasaan mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus.

“Memberikan perhatian pada satu tugas dan mengurangi distraksi dapat membantu otak bekerja dengan lebih terarah,” katanya.

Bagian terakhir dari metode tersebut adalah Five minutes to refocus, yakni menyediakan waktu sekitar lima menit untuk memulihkan konsentrasi. Waktu singkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk melakukan aktivitas sederhana seperti olahraga ringan, menarik napas dalam-dalam, berjalan sejenak, atau melakukan meditasi singkat. Jeda semacam ini ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada pikiran beristirahat sebelum kembali mengerjakan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.

Singh menekankan masyarakat tidak perlu memaksakan diri mempertahankan fokus penuh sepanjang hari karena kemampuan konsentrasi secara alami dapat berfluktuasi. Namun, kesulitan berkonsentrasi perlu mendapat perhatian apabila terjadi terus-menerus hingga mengganggu pekerjaan, aktivitas sehari-hari, maupun kualitas hidup. Dalam kondisi tersebut, masyarakat disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental profesional untuk memperoleh penilaian dan penanganan yang sesuai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....