Pancaroba, Waspadai Risiko Bronkopneumonia dan Kenali Langkah Pencegahannya
- 20 Sep 2026 16:16 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Memasuki musim pancaroba, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan saluran pernapasan, termasuk bronkopneumonia. Edukasi mengenai penyakit tersebut menjadi salah satu topik yang dibahas dalam program Jaga Malam Jangan Galau Malam-Malam bertajuk “Komunitalks” yang disiarkan RRI Pro 2 Jogja, Jumat 11 September 2026.
Dalam siaran yang berlangsung pukul 20.30–21.00 WIB melalui frekuensi 102.5 FM Pro 2 Jogja, dr. Ana Fauziyati, M.Sc., Sp.PD., FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia sekaligus Ketua Program Studi Profesi Dokter FK UII, memberikan penyuluhan kesehatan masyarakat bertema “Mencegah Bronchopneumonia di Musim Pancaroba”.
Ana menjelaskan, perubahan kondisi lingkungan selama pancaroba dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan. Perubahan suhu yang cukup drastis, udara kering, debu, serbuk sari, serta paparan polusi dapat mengiritasi saluran napas.
Kondisi tersebut perlu diantisipasi, terutama oleh kelompok masyarakat yang memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi pernapasan.
“Pada musim pancaroba, masyarakat perlu lebih memperhatikan kondisi tubuh dan lingkungan karena perubahan cuaca, debu, serta kualitas udara dapat memengaruhi kesehatan saluran pernapasan,” ujar Ana dalam penyuluhan tersebut.
Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk pneumonia yang menyebabkan peradangan dan infeksi pada bronkus serta alveoli atau kantung udara di paru-paru. Peradangan dapat menyebabkan alveoli terisi cairan atau material akibat proses infeksi sehingga pertukaran oksigen terganggu.
Penyakit ini dapat menyerang berbagai kelompok usia, tetapi bayi, balita, lansia, serta orang dengan daya tahan tubuh rendah termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Gejala yang harus diwaspadai antara lain demam, menggigil, tubuh lemas, batuk berdahak, nyeri dada saat batuk atau bernapas, hingga sesak napas.
Pada anak-anak, tanda bahaya dapat berupa napas yang lebih cepat dari normal, tarikan dinding dada ke dalam, sulit makan atau minum, tidak mau menyusu, serta kondisi tubuh yang tampak sangat lemah. Kemunculan gejala tersebut memerlukan perhatian dan pemeriksaan medis.
“Jika muncul sesak napas, demam tinggi, batuk berdahak yang menetap, atau anak menunjukkan tanda bahaya seperti napas cepat dan tarikan dinding dada, jangan menunda untuk mendapatkan pemeriksaan medis,” ucapnya.
Menurut materi penyuluhan, risiko bronkopneumonia juga dapat meningkat pada orang dengan penyakit penyerta seperti asma, penyakit jantung kronis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan diabetes.
Malnutrisi serta status imunisasi yang tidak lengkap juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Sementara itu, paparan asap rokok, asap dapur, debu, dan polusi lingkungan dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan.
Penanganan bronkopneumonia dilakukan berdasarkan penyebab dan kondisi pasien. Dokter dapat melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan saturasi oksigen, hingga pemeriksaan penunjang seperti foto rontgen dada dan pemeriksaan laboratorium.
Penggunaan antibiotik hanya diperlukan apabila infeksi disebabkan bakteri dan harus berdasarkan pemeriksaan serta resep dokter, sedangkan terapi lainnya disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien.
Pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyakit tersebut. Masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan tangan dan lingkungan, mengurangi paparan asap rokok, menggunakan masker ketika berada di lingkungan berdebu, menjaga asupan nutrisi dan cairan, serta memastikan imunisasi sesuai anjuran.
Untuk anak, pemberian ASI eksklusif dan pemenuhan gizi juga berperan dalam mendukung daya tahan tubuh. Dengan mengenali gejala sejak dini dan menerapkan pola hidup sehat, risiko komplikasi bronkopneumonia selama musim pancaroba dapat ditekan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....