Psikolog Ingatkan Bahaya Self Diagnose Digital tanpa Dasar Medis

  • 09 Jul 2026 13:07 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Bantul - Lonjakan kesadaran publik terhadap isu kesehatan mental di media sosial kini memicu tantangan baru bagi dunia psikologi, salah satunya maraknya fenomena self-diagnose atau diagnosis mandiri yang keliru di kalangan masyarakat awam. Isu krusial ini menjadi salah satu bahasan utama dalam seminar Psychology Career Planning (PCP) 2026 yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Psikologi (Fapsi) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) di Ruang Amphitarium Kampus 4 UAD, Sabtu, 4 Juli 2026.

Praktisi psikologi klinis sekaligus Co-Founder mentalhealing.id Mahira Syafana Kuswanto, S.Psi., Psikolog, CHt. mengungkapkan bahwa menjamurnya konten kesehatan mental di satu sisi berdampak positif, namun di sisi lain membawa risiko penyebaran informasi yang tidak akurat. Akibatnya, banyak orang dengan mudah melabeli diri sendiri atau orang lain dengan istilah klinis yang berat tanpa adanya dasar pemeriksaan medis yang sah.

“Kita tidak boleh melakukan self-diagnose hanya berdasarkan konten-konten media sosial, atau dengan mudahnya melabeli orang lain dengan istilah klinis seperti Narcissistic Personality Disorder (NPD) tanpa dasar medis,” kata Mahira saat membedah tantangan baru di ranah psikologi klinis tersebut.

Mahira menambahkan, tantangan ini semakin diperberat oleh masih kuatnya stigma negatif sebagian masyarakat yang mengaitkan gangguan mental dengan kurangnya ibadah atau gangguan jiwa berat. Oleh karena itu, mahasiswa psikologi masa kini dituntut tidak hanya menguasai teori, melainkan harus siap turun tangan mengedukasi publik secara tepat, membangun personal branding yang jujur, serta menjaga kepatuhan ketat pada kode etik profesi.

Kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika dan tantangan riil di masyarakat ini juga digarisbawahi oleh Gubernur BEM Fapsi UAD Irawan Setia Putra. Menurutnya, fase perkuliahan adalah momen krusial bagi mahasiswa untuk mengasah keberanian dan kesiapan diri sebelum terjun langsung menjadi agen perubahan di dunia profesional.

“Di dalam kehidupan, kita berada di satu titik keberhasilan dan satu langkah kegagalan. Yang membedakan keduanya bukanlah keberuntungan, melainkan keberanian dari diri kita untuk menentukan arah dari tujuan itu. Setiap keputusan yang kita ambil nantinya sangat berpengaruh pada masa depan, dan langkah itu harus kita mulai dari sekarang,” ujar Irawan.

Tantangan pemahaman diri dan adaptabilitas ini rupanya tidak hanya terjadi di bidang klinis, tetapi juga di ranah Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Yova Renaldi, S.Psi., seorang praktisi HR, menutup rangkaian seminar dengan mengingatkan bahwa industri modern saat ini mencari individu yang responsif terhadap perubahan dan memiliki empati tinggi demi membantu menyelesaiakan berbagai kompleksitas masalah manusia di era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....