Bahaya Minyak Goreng Bekas Mengintai Kesehatan Keluarga
- 13 Jun 2026 13:46 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Penggunaan minyak goreng secara berulang masih menjadi kebiasaan yang cukup umum di tengah masyarakat. Alasan utama yang melatarbelakangi kebiasaan ini umumnya adalah faktor ekonomi dan keinginan untuk menghemat pengeluaran rumah tangga. Namun, para ahli mengingatkan bahwa penggunaan minyak goreng bekas secara terus-menerus dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan yang tidak boleh diabaikan.
Ketika minyak dipanaskan berulang kali pada suhu tinggi, struktur kimianya akan mengalami perubahan. Proses tersebut dapat menghasilkan berbagai senyawa berbahaya yang berpotensi masuk ke dalam makanan yang dikonsumsi. Tanda-tanda minyak yang kualitasnya mulai menurun antara lain perubahan warna menjadi lebih gelap, munculnya bau tengik, serta terbentuknya asap lebih cepat saat digunakan untuk menggoreng.
Menurut Dr. Lisa Young, ahli gizi sekaligus dosen nutrisi di New York University, minyak yang digunakan berulang kali dapat mengalami proses oksidasi. Proses ini menghasilkan senyawa yang tidak sehat dan berpotensi memicu berbagai gangguan pada tubuh jika dikonsumsi dalam jangka panjang. “Minyak yang digunakan berulang kali dapat mengalami oksidasi yang menghasilkan senyawa tidak sehat dan berpotensi meningkatkan peradangan dalam tubuh,” ujarnya.
Selain memicu peradangan, kualitas minyak yang menurun juga dapat berdampak pada kesehatan secara lebih luas. Dr. Frank Hu, profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, menjelaskan bahwa pemanasan minyak secara berulang berpotensi menghasilkan zat-zat yang berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kronis. Risiko tersebut meliputi gangguan jantung, penyakit pembuluh darah, serta berbagai masalah kesehatan lainnya yang berkembang secara perlahan.
Menurutnya, masyarakat perlu lebih cermat dalam menilai kondisi minyak sebelum menggunakannya kembali. “Penggunaan minyak yang sudah berubah warna dan aroma sebaiknya dihindari karena kualitasnya telah menurun dan dapat meningkatkan risiko kesehatan,” katanya.
Tidak hanya berdampak pada kesehatan, penggunaan minyak goreng berulang juga dapat memengaruhi kualitas makanan yang dihasilkan. Makanan yang digoreng menggunakan minyak bekas cenderung memiliki rasa yang kurang segar, aroma yang berubah, serta kandungan lemak hasil oksidasi yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi nilai gizi makanan yang dikonsumsi sehari-hari oleh anggota keluarga.
Para ahli menyarankan masyarakat untuk membatasi penggunaan ulang minyak goreng dan segera menggantinya ketika mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Menjaga kualitas minyak goreng merupakan langkah sederhana namun penting untuk menghasilkan makanan yang lebih sehat, lezat, dan aman dikonsumsi. Dengan kebiasaan tersebut, risiko paparan senyawa berbahaya dapat diminimalkan sehingga kesehatan keluarga tetap terjaga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....