Waspadai Gawai Seluler Berlebih, Ancam Generasi Masa Depan Indonesia
- 13 Jun 2026 04:16 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Tingginya penggunaan smartphone di Indonesia menjadi perhatian kalangan akademisi dan praktisi kesehatan mental. Dosen Psikologi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Nissa Tarnoto, M.Psi., Ph.D., mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap fenomena Problematic Smartphone Use atau penggunaan smartphone yang bermasalah. Hal tersebut disampaikannya dalam program Jaga Malam – Komunitalks Pro2 RRI Yogyakarta pada Senin, 8 Juni 2026 dengan tema Melindungi Generasi Masa Depan dari Bahaya Problematic Smartphone Use.
Dalam kesempatan tersebut, Nissa mengungkapkan bahwa berbagai survei dan hasil penelitian menunjukkan Indonesia termasuk tujuh besar negara dengan tingkat penggunaan smartphone tertinggi di dunia. Tingginya intensitas penggunaan perangkat digital tersebut membuat masyarakat semakin rentan mengalami Problematic Smartphone Use, yakni kondisi ketika penggunaan gawai sudah melebihi batas wajar hingga mengganggu kehidupan sehari-hari. “Indonesia termasuk nomor tujuh negara dengan penggunaan smartphone yang tinggi. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi lebih rentan terhadap bahaya Problematic Smartphone Use,” ujarnya.
Menurut Nissa, penggunaan smartphone yang tidak terkendali dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik secara psikologis maupun sosial. Pada anak-anak, penggunaan smartphone secara berlebihan dapat menyebabkan kemampuan konsentrasi menjadi lebih pendek. Padahal, pada masa pertumbuhan, anak membutuhkan fokus yang lebih lama untuk mendukung proses belajar, bermain, dan perkembangan kognitifnya.
Sementara itu, pada kelompok remaja, dampak yang muncul tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental, tetapi juga kehidupan sosial dan akademik. Remaja yang terlalu banyak menghabiskan waktu dengan smartphone berisiko mengalami kecemasan, berkurangnya interaksi sosial secara langsung, hingga penurunan prestasi belajar.
“Untuk remaja, dampaknya dapat berupa terganggunya kehidupan sosial, munculnya kecemasan, hingga performa akademik yang menurun,” katanya.
Nissa menjelaskan bahwa penggunaan smartphone pada era digital saat ini memang sulit dihindari. Namun, masyarakat perlu mengenali tanda-tanda ketika penggunaan ponsel telah berubah menjadi masalah. Beberapa indikator yang perlu diwaspadai antara lain terganggunya aktivitas sehari-hari seperti makan, tidur, dan belajar, munculnya rasa senang atau semangat yang berlebihan saat menggunakan smartphone, serta timbulnya rasa gelisah atau reaksi emosional yang kuat ketika tidak dapat mengakses perangkat tersebut. Selain itu, seseorang juga cenderung lebih nyaman bersosialisasi di dunia maya dibandingkan berinteraksi secara langsung di dunia nyata, serta menggunakan smartphone lebih dari delapan jam setiap hari.
Untuk mencegah terjadinya Problematic Smartphone Use, Nissa menekankan pentingnya peran keluarga dalam membangun kedekatan emosional sejak dini. Menurutnya, hubungan yang hangat dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak dapat menjadi benteng utama dalam mengontrol penggunaan gawai secara sehat.
“Pencegahan dapat dimulai dari keluarga dengan membangun kelekatan yang kuat sehingga anak memiliki kontrol yang lebih baik terhadap penggunaan smartphone,” ucapnya. Program Komunitalks Pro 2 RRI Yogyakarta ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya penggunaan teknologi secara bijak demi menjaga kualitas hidup dan masa depan generasi muda Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....