Sering Mabuk Perjalanan? Bukan Masuk Angin, Ini Penyebabnya
- 30 Mei 2026 16:01 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Banyak orang sering mengaitkan kondisi mabuk perjalanan saat naik mobil atau kapal disebabkan oleh perut kosong dan gejala masuk angin biasa. Padahal, kondisi tersebut sebenarnya terjadi karena otak otak keliru mengira tubuh sedang keracunan.
Melalui kanal You-Tubenya, dr. Saddam Ismail menjelaskan bahwa keseimbangan tubuh manusia dikendalikan oleh dua hal utama, yakni penglihatan dari mata dan telinga bagian dalam atau sistem vestibular. Kedua sistem ini bekerja secara sinergis untuk memberi tahu otak tentang posisi dan pergerakan tubuh setiap saat.
Ketika seseorang duduk di dalam mobil yang melaju kencang, mata akan melihat pemandangan di luar bergerak dengan cepat. Di sisi lain, telinga bagian dalam dan otot tubuh justru melaporkan bahwa tubuh sedang duduk diam dengan tenang.
Perbedaan informasi inilah yang memicu benturan sinyal sensorik sehingga otak mengalami kebingungan. Secara biologis, otak menafsirkan kekacauan sinyal sensori semacam ini sebagai tanda bahwa tubuh sedang berhalusinasi akibat menelan zat beracun.
Sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, otak pun segera mengaktifkan area yang dikenal sebagai area postrema, yaitu pusat kendali muntah yang terletak di batang otak. Area ini kemudian memicu rasa mual dengan harapan agar tubuh segera memuntahkan "racun" atau benda asing yang dianggap telah masuk.
Dengan demikian, rasa mual dan muntah yang dialami saat mabuk perjalanan merupakan respons keliru otak dalam membaca situasi. Tubuh sebenarnya tidak keracunan apa pun, namun otak terlanjur bereaksi seolah-olah ada ancaman yang harus segera ditangani.
Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak menyepelekan kondisi mabuk perjalanan hanya sebagai gangguan ringan semata, sehingga dapat mencari solusi yang lebih tepat, seperti memfokuskan pandangan ke depan atau mengonsumsi obat antimual sebelum bepergian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....