Kasus Malaria Meningkat, UGM Soroti Faktor Lingkungan dan Ancaman Zoonosis
- 29 Mei 2026 21:05 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kasus malaria di Indonesia masih menjadi tantangan serius karena dipengaruhi banyak faktor, tidak hanya aspek medis, tetapi juga kondisi lingkungan, geografis, hingga interaksi manusia dengan hewan dan ekosistem. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus malaria di Indonesia pada 2025 tercatat mencapai 706.297 kasus.
Angka tersebut meningkat sekitar 30 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 543.965 kasus. Kondisi ini dinilai membutuhkan penanganan komprehensif serta dukungan lintas sektor untuk mengejar target eliminasi malaria pada 2030.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo menilai pengendalian malaria di Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena erat kaitannya dengan faktor lingkungan. Ia menjelaskan, sejumlah wilayah di Indonesia memiliki kondisi alam yang mendukung berkembangnya nyamuk Anopheles sebagai vektor penular malaria.
“Nyamuk sangat bergantung pada faktor lingkungan. Artinya, nyamuk dapat hidup dan berkembang biak dengan baik kalau lingkungannya mendukung. Itu yang menjadikan malaria di berbagai daerah di Indonesia sulit dikendalikan,” ujarnya.
Menurut Wisnu, wilayah timur Indonesia, khususnya Papua, memiliki karakter geografis berupa curah hujan tinggi, kawasan pegunungan, serta banyak genangan air jernih yang menjadi habitat ideal bagi nyamuk penyebab malaria. Kondisi ini membuat sekitar 95 persen kasus malaria nasional masih terkonsentrasi di wilayah tersebut.
Ia menambahkan, potensi endemis malaria juga masih ditemukan di sejumlah daerah lain seperti Kalimantan, Sumatera, hingga kawasan Pegunungan Menoreh di Kulon Progo.
“Jika kondisi geografis mendukung, otomatis dengan mudah vektor malaria dapat berkembangbiak,” katanya.
Wisnu juga menyoroti ancaman malaria zoonotik, yakni malaria yang ditularkan dari hewan ke manusia. Dari perspektif kesehatan hewan, satwa liar seperti monyet ekor panjang dan orangutan diketahui dapat menjadi inang alami parasit tertentu.
Salah satu yang perlu diwaspadai adalah Plasmodium knowlesi, parasit malaria pada primata yang dapat menular ke manusia melalui gigitan nyamuk Anopheles. Menurutnya, jenis malaria ini memiliki tingkat keganasan yang tinggi.
“Pada manusia, Plasmodium knowlesi ini sangat patogen. Dalam satu sampai dua hari bisa menyebabkan demam tinggi, dan kalau tidak segera diobati bisa menyebabkan kematian,” katanya.
Di sisi pengobatan, Wisnu menjelaskan pemerintah selama ini telah menyediakan obat antimalaria secara gratis di wilayah endemis. Namun, efektivitas pengobatan menghadapi tantangan akibat resistensi parasit terhadap obat-obatan lama seperti Kina.
Kondisi tersebut membuat tenaga kesehatan harus menggunakan obat generasi baru yang lebih mahal dan membutuhkan distribusi lebih kompleks. Selain itu, keterbatasan akses wilayah dan faktor keamanan juga masih menjadi hambatan dalam distribusi obat maupun tenaga kesehatan di daerah endemis.
Akibatnya, masyarakat di wilayah terpencil sering mengalami keterlambatan diagnosis dan penanganan, padahal malaria dapat berkembang menjadi kondisi berat dalam waktu singkat apabila tidak segera ditangani.
Karena itu, Wisnu menekankan pentingnya edukasi masyarakat untuk mencegah penyebaran malaria, terutama melalui pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan.
“Edukasi terhadap masyarakat berperan sangat penting dalam pencegahan malaria, khususnya untuk pengendalian nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan,” katanya.
Wisnu optimistis target eliminasi malaria pada 2030 dapat dicapai jika pendekatan One Health diterapkan secara konsisten. Pendekatan tersebut menekankan kolaborasi antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan secara terpadu dalam deteksi dini, pengobatan, pengendalian vektor, hingga pelestarian lingkungan.
“Kita harus bekerja sama, berkolaborasi, saling berkoordinasi. Jangan sampai kesehatan manusia jalan sendiri, kesehatan hewan jalan sendiri, dan lingkungan jalan sendiri. One Health jangan hanya berakhir pada slogan saja,” kata Wisnu.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....