Bukan Daging Kambing, ternyata ini Pemicu Kolesterol saat Iduladha!
- 27 Mei 2026 18:56 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID., Yogyakarta - Umumnya, perayaan Iduladha identik dengan olahan makanan berbahan dasar daging, baik daging kambing maupun daging sapi. Euforia menyantap hidangan serba daging pun menjadi bagian dari tradisi yang dinantikan banyak umat Muslim.
Namun, pernahkah kita benar-benar memahami kandungan lemak jenuh dan kolesterol yang terdapat pada daging kambing maupun sapi? Informasi ini penting diketahui agar konsumsi daging saat Iduladha tetap nikmat sekaligus lebih bijak bagi kesehatan.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, membagikan fakta yang mengejutkan dalam unggahannya di akun pribadinya @bgsadikin. Anggapan banyak orang kalau daging kambing adalah pemicu kolesterol itu adalah keliru.
| Baca juga: Buah Nangka, Si Manis untuk Kesehatan Tubuh |
Dalam unggahannya, Menkes menjelaskan kandungan lemak jenuh kambing ternyata hanya 0.8 gram, sedangkan sapi mencapai 3 gram. Ini berarti lemak jenuh sapi tiga kali lipat lebih tinggi dari kambing.
Urusan kolesterol pun serupa. Kambing hanya di angka 64 mg, lebih rendah jika dibandingkan dengan daging sapi yang mencapai 73 mg atau bahkan dada ayam di angka 76 mg.
‘’Kasihan ini si kambing, selalu dituduh menjadi kambing hitam, dibilang penyebab kolesterol tinggi, lemak jenuhnya tinggi, padahal daging sapi ini, lemak jenuhnya tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan dari pada lemak jenuhnya daging kambing,’ katanya seperti yang disampaikan dalam unggahan di akun pribadinya, pada Rabu 27 Mei 2026.
| Baca juga: Tips Menghindari Kurang Darah |
Lalu, siapa sebenarnya pelaku kolesterol dan darah tinggi saat lebaran haji? Menurut menkes, pelaku utamanya adalah santan kental yang dimasak berjam-jam, serta jeroan seperti hati, paru, dan usus yang kadar kolesterolnya 3 sampai 5 kali lebih tinggi dari daging.
‘’Jadi kalau habis Iduladha, banyak yanng masuk rumah sakit karena kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, yang salah bukan si kambing, yang salah adalah si yang masak. Si kambing udah bener sehat, sama si tukang masak ditambahin santan, tambahin jerohan, tambahin garamnya banyak, ditambahin juga gulanya banyak,’’ ucapnya. Ia juga berpesan untuk mengatur jumlahnya, agar daging diolah dengan benar supaya tetap sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....