Sama-sama Ditularkan lewat Tikus, Apa Perbedaan Hantavirus dengan Leptospirosis?
- 17 Mei 2026 12:04 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta – Kasus Hantavirus belakangan menjadi perhatian publik usai tiga orang dilaporkan meninggal dunia di kapal pesiar MV Hondius karena terpapar penyakit tersebut. Kendati demikian, Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY) meminta masyarakat tidak panik, sebab Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus yang tersebar di Benua Amerika.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DIY, dr. Ari Kurniawati mengatakan, Hantavirus sebenarnya bukanlah penyakit baru. Namun, kemampuan deteksi penyakit tersebut di Indonesia baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir karena keterbatasan laboratorium pemeriksaan.
“Hantavirus itu sebenarnya penyakit yang sudah sangat lama. Cuma memang kita baru bisa menemukan di 2025 itu karena laboratoriumnya masih sangat terbatas. Kita harus ngirim sampel ke Jakarta, sebab tidak semua faskes itu bisa,” kata dr. Ari saat ditemui beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut dr. Ari mengatakan, Hantavirus memiliki kemiripan dengan Leptospirosis yang lebih populer di masyarakat. Ia menjelaskan, keduanya sama-sama berkaitan dengan tikus sebagai perantara penularan, namun memiliki penyebab dan metode penularan yang berbeda.
Leptospirosis disebabkan oleh bakteri, sedangkan Hantavirus berasal dari virus. Penularan Leprospirosis umumnya menular melalui air yang terkontaminasi urine tikus dan masuk ke tubuh melalui luka terbuka. Sementara Hantavirus dapat menular melalui partikel dari kotoran atau urine tikus yang terhirup manusia.
“Di DIY pemeriksaan Hantavirus dilakukan melalui sistem sentinel atau kewaspadaan. Jadi, pasien yang dicurigai Leptospirosis juga diperiksa Hantavirus,” ujarnya.
Menurut dr. Ari, kasus Leptospirosis di DIY masih cukup tinggi. Hal itu lantaran kasus tersebut lebih mudah terdeteksi. Berbeda dengan Hantavirus yang pemeriksaannya masih sangat terbatas.
“Leptospirosis itu lumayan banyak kasusnya. Tiap tahun dan hampir tiap minggu itu ada kasus Leptospirosis. Kasusnya banyak sekali karena sudah ada semacam rapid test dan sudah kita sebar ke faskes-faskes, ke puskesmas. Tapi kalau Hantavirus, fasilitas pemeriksaan kita sangat terbatas,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes DIY mengingatkan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah dengan baik, rutin mencuci tangan, serta menggunakan sepatu bot ketika berakvitas di area berisiko, seperti persawahan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menutup lubang atau celah yang dapat menjadi akses masuk tikus ke dalam rumah.
dr. Ari menambahkan, ketika membersihkan kotoran tikus sebaiknya menggunakan menggunakan masker dan memakai metode basah agar partikel tidak beterbangan di udara. “Jangan pakai sapu langsung, tapi gunakan metode basah itu yang dianjurkan,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....