Waspadai Risiko Tersembunyi Minuman Herbal Kemasan Saset
- 12 Mei 2026 22:07 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Minuman “obat herbal” cair dalam kemasan saset selama ini menjadi pilihan praktis masyarakat Indonesia untuk membantu meredakan masuk angin, batuk, tenggorokan tidak nyaman, hingga mual. Sensasi hangat dan aroma rempah khas membuat produk tersebut kerap dianggap aman dikonsumsi karena berbahan alami. Namun, para ahli mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan dalam jangka panjang tetap dapat menimbulkan risiko kesehatan tertentu.
Sorotan utama tertuju pada penggunaan kayu manis jenis Cassia (Cinnamomum burmannii) yang umum dipakai dalam industri herbal modern. Jenis kayu manis ini diketahui memiliki kandungan kumarin jauh lebih tinggi dibandingkan kayu manis Ceylon yang sering disebut sebagai “kayu manis asli”. Kumarin sendiri merupakan senyawa alami pemberi aroma khas pada kayu manis, tetapi dalam jumlah tinggi berpotensi berdampak buruk bagi tubuh, terutama organ hati.
Sejumlah penelitian menunjukkan perbedaan kadar kumarin antara kedua jenis kayu manis tersebut sangat signifikan. Kayu manis Ceylon hanya mengandung sekitar 0,004 persen kumarin, sedangkan Cassia dapat mencapai sekitar 1 persen atau sekitar 250 kali lebih tinggi. “Kandungan kumarin pada Cassia memang jauh lebih besar sehingga perlu diperhatikan apabila dikonsumsi rutin dalam jumlah banyak,” ujar seorang pakar keamanan pangan.
Perhatian terhadap senyawa kumarin juga datang dari berbagai lembaga internasional. European Food Safety Authority (EFSA) menetapkan batas asupan harian yang masih dapat ditoleransi sebesar 0,1 miligram per kilogram berat badan per hari. Aturan tersebut dibuat guna meminimalkan potensi toksisitas, khususnya terhadap hati. Institut Penilaian Risiko Federal Jerman (BfR) bahkan menyebut paparan kumarin dalam dosis relatif kecil dapat memicu gangguan hati pada individu yang sensitif.
Tidak hanya hati, sejumlah studi toksikologi terbaru juga menyoroti potensi nefrotoksisitas atau gangguan fungsi ginjal akibat konsumsi ekstrak kayu manis Cassia secara berlebihan dan berkepanjangan. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food and Chemical Toxicology tahun 2012 menyebutkan bahwa kumarin pada uji hewan menunjukkan potensi toksisitas hati dan efek karsinogenik tertentu. Meski demikian, para peneliti menegaskan hasil pada hewan tidak selalu dapat disamakan secara langsung dengan dampaknya pada manusia.
Selain risiko terhadap organ tubuh, pakar kesehatan turut mengingatkan kemungkinan interaksi antara kayu manis dosis tinggi dengan obat-obatan tertentu, terutama obat pengencer darah. Kandungan tertentu dalam kayu manis diketahui dapat memengaruhi proses pembekuan darah sehingga meningkatkan risiko perdarahan pada sebagian pasien. “Bahan alami bukan berarti sepenuhnya bebas risiko, apalagi jika dikonsumsi terus-menerus tanpa memperhatikan dosis,” ucap seorang ahli farmakologi klinis.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa risiko kesehatan umumnya berkaitan dengan konsumsi berlebihan dalam jangka panjang, bukan penggunaan sesekali dalam jumlah wajar. Masyarakat diimbau lebih cermat membaca komposisi produk herbal yang dikonsumsi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila memiliki riwayat penyakit hati, gangguan ginjal, atau sedang mengonsumsi obat tertentu. Kesadaran terhadap kandungan bahan aktif dinilai penting agar manfaat produk herbal tetap dapat diperoleh tanpa mengabaikan potensi risiko jangka panjang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....