Peringatan Hari Asma dan TB Anak Tekankan Pentingnya Skrining Dini

  • 11 Mei 2026 14:38 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Mendorong kesadaran pentingnya pencegahan Asma dan tuberkulosis (TB) unit kerja khusus (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DIY bersama Klub Asma Anak Yogyakarta dan Promkes RSUP Dr. Sardjito menggelar peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia, di Grha Pandawa Balai Kota Yogyakarta, Sabtu, 9 Mei 2026. Dalam kegiatan tersebut juga digelar skrining TB gratis, lomba mewarnai anak, pentas seni Klub Asma Anak Yogyakarta, serta sesi sharing and caring bertajuk Batuk Pada Anak: Asma, Pneumonia atau Tuberkulosis? bersama dokter spesialis anak, yakni dr. Dwikisworo Setyowireni, Sp.A(K), dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K), dr. Amalia Setyati, Sp.A(K), dan dr. Roni Naning, M.Kes, Sp.A(K).

Ketua IDAI DIY, Tunjung Wibowo mengatakan, peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Terutama terkait penyakit seperti asma dan TB dapat dicegah, dikendalikan, bahkan disembuhkan apabila ditangani dengan baik.

“Kadang beberapa penyakit itu bisa ditanggulangi, bisa dicegah, bisa disembuhkan. Supaya nanti tidak menimbulkan stigma-stigma di masyarakat,” katanya.

Tanjung menjelaskan, asma yang terjadi pada anak dapat sangat mengganggu kualitas hidup, bahkan berpotensi mengancam jiwa apabila serangannya berat. Karena itu, masyarakat perlu memahami cara hidup berdampingan dengan asma agar anak-anak tetap dapat tumbuh dan berprestasi.

Tunjung juga mengingatkan, pentingnya menjaga kualitas lingkungan karena menjadi salah satu faktor pemicu gangguan pernapasan. Selain itu, ia mendorong masyarakat memanfaatkan layanan skrining TB yang disediakan dalam kegiatan tersebut.

"Anak-anak asma juga tidak ada kendala untuk bisa mencapai prestasi-prestasi yang diinginkan. Dengan adanya screening TB dan sebagainya kita gerakkan semua itu semoga bisa ketahuan dini, bisa diobati, dan tidak menularkan ke sekitarnya,” ucapnya.

Peringatan Hari Asma dan TB Anak Sedunia juga diharapkan dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya, sebagai sarana edukasi dan penguatan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan anak.

Wali kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo dalam kesempatan tersebut menyampaikan, masalah kesehatan menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Yogyakarta, termasuk dalam penanganan TB dan Asma. Menurutnya, pendekatan teknologi kesehatan, didukung perubahan perilaku masyarakat, serta penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan rumah sakit, diharapkan dapat mencegah dan menangani masalah kesehatan di Kota Yogyakarta.

Hasto juga mengapresiasi, kolaborasi IDAI, RSUP Dr. Sardjito, perguruan tinggi, serta berbagai pihak yang terus mendukung penguatan layanan kesehatan masyarakat melalui pemeriksaan dan skrining gratis. Langkah ini sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terkait TB dan asma pada anak.

“Kota Yogyakarta saya kira tepat sekali ketika kita melakukan kegiatan-kegiatan yang ada hubungannya dengan TB dan Asma. Bagaimana kita mengatasi TB di Kota Yogyakarta mau tidak mau harus melakukan pendekatan berbasis medical technology yang terkini dan juga menguatkan perubahan perilaku di tengah masyarakat,” katanya, mengungkapkan.

Hasto mengungkapkan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya lingkungan bersih, rumah yang tidak lembap, kepatuhan melakukan skrining, hingga disiplin menjalani pengobatan menjadi faktor penting dalam menekan kasus TB dan gangguan pernapasan pada anak.

“Kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang bersih, yang tidak lembap, kemudian juga perilaku yang taat kepada screening dan juga pada pengobatan, saya kira ini betul-betul membutuhkan dukungan dari perilaku masyarakat,” ujarnya.

Hasto menambahkan, stunting di Kota Yogyakarta juga sangat dipengaruhi oleh kesehatan lingkungan. Karena itu, pengendalian TB dinilai turut mendukung upaya peningkatan tumbuh kembang anak.

“Stunting sudah turun secara signifikan dari 14 persen di awal tahun 2024, sekarang menjadi 9,48 persen. Mudah-mudahan dengan dukungan Bapak-Ibu sekalian kemudian kita bisa lebih turun lagi,” katanya, mengungkapkan.

Sebagai bentuk penguatan surveilans kesehatan masyarakat, Pemkot Yogyakarta juga menggandeng Fakultas Kedokteran UGM dengan menerjunkan 400 mahasiswa kedokteran untuk mendampingi keluarga berisiko tinggi selama masa pendidikan mereka.

“Empat ratus mahasiswa Kedokteran itu selama empat tahun mengawal satu keluarga. Ini bisa menjadi bagian surveillance sekaligus penguatan deteksi dini gejala TB maupun pneumonia,” ucapnya, menjelaskan.

Pemkot Yogyakarta lanjut Hasto, juga menjalankan program One Village One University dan pendampingan satu kampung oleh tenaga kesehatan sebagai bagian penguatan kesehatan berbasis komunitas. Disamping itu akses dukungan internasional juga tengah dilakukan Pemkot untuk penanganan kesehatan dan perbaikan rumah tidak layak huni di kawasan bantaran sungai yang berpotensi menjadi sumber penyakit.

“Kita melakukan kegiatan-kegiatan yang sifatnya preventif,” ujarnya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....