Dinkes Yogyakarta Temukan Puluhan Anak dari Daycare Alami Gangguan Gizi
- 05 Mei 2026 11:18 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kesehatan melakukan langkah cepat dalam memberikan pendampingan intensif terhadap anak-anak yang menjadi korban dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta. Berdasarkan assessment terbaru ditemukan puluhan anak mengalami gangguan kesehatan serius, mulai dari masalah gizi hingga gangguan tumbuh kembang.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani mengatakan, tindak lanjut dilakukan secara kolaboratif melibatkan seluruh puskesmas di wilayah yang memiliki tim terdiri dari dokter, bidan, nutrisionis, hingga psikolog. Penanganan dilakukan secara komperhensif berdasarkan assessment yang telah dilakukan.
"Itu ditindaklanjuti, kalau yang memang berat badannya kurang diberikan PMT (Pemberian Makanan Tambahan), kalau yang pertumbuhan nanti dari psikolog Puskesmas yang memeriksa. Tetapi memang diperlukan rujukan nanti kita rujuk," katanya, Senin, 4 Mei 2026.
Emma menyebutkan, dari hasil assessment sementara ditemukan korban pada kasus kekerasan dan penelantaran anak ada 17 anak mengalami masalah gizi dan 13 masalah perkembangan. Masalah perkembangan ini seperti gejala hiperaktif (ADHD), autisme, hingga keterlambatan bicara (speech delay).
"Itu data yang melapor ke UPT PPA, dan kita menugaskan setiap hari enam puskesmas, baik nutrisionis maupun psikolog klinis untuk assessment di sana. Itu didapatkan 131 kemudian diperiksa ditemukan itu," ucapnya.
Emma mengungkapkan, jumlah korban yang melapor ke UPT Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) ini tidak terbatas pada tahun ajar ini, tetapi ada juga yang telah lulus. Karena diakui Pemkot ingin menuntaskan permasalahan terutama dari sisi pendampingan korban.
"Kemarin itu seharusnya 149 yang datang melapor, tetapi baru diperiksa 131. Sedangkan baru 125 diperiksa terkait gizi dan karena mungkin karena kelamaan menunggu atau bagaimana jadi belum sempat diperiksa oleh psikolog," ujarnya.
Lebih lanjut Emma menegaskan, pemulihan kondisi anak-anak ini tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, proses terapi diperkirakan membutuhkan waktu minimal enam bulan, tergantung pada tingkat keparahan masing-masing kasus.
"Paling tidak enam bulan, nanti kita evaluasi lagi. Itu tergantung terapinya apa, keparahannya dari kasus, dan perkembangan seberapa itu yang tahu dari psikolog klinisnya," katanya, menjelaskan.
Adapun langkah-langkah konkret yang akan diambil seperti, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), itujukan bagi anak-anak yang memiliki berat badan kurang dan masalah gizi. Terapi Psikologis Terpusat bagi anak-anak dengan hambatan perkembangan yang akan didampingi oleh psikolog klinis di wilayah Puskesmas masing-masing untuk perencanaan terapi mendalam.
Sistem rujukan juga akan dilakukan jika ditemukan kasus yang membutuhkan penanganan lebih spesifik, Dinkes akan segera merujuk pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi. Dinkes juga tengah melakukan pemetaan ulang untuk mendistribusikan penanganan medis para korban agar lebih dekat dengan domisili mereka.
"Itu tergantung dia mau periksa di mana, misal mau di Puskesmas dekat rumah atau bahkan bukan wilayahnya tidak apa-apa," ujarnya, mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....