Jangan Anggap Remeh Gangguan Haid, Bisa Jadi Tanda Hipogonadisme

  • 30 Apr 2026 14:18 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perubahan tubuh yang terasa janggal di usia produktif sering dianggap sebagai dampak kelelahan atau stress semata. Menstruasi yang tiba-tiba berhenti selama berbulan-bulan, munculnya sensasi panas di wajah dan dada seperti hot flashes layaknya wanita yang akan menopause, padahal usia baru menginjak 20 atau 30-an.

Gejala – gejala seperti emosi yang mudah meledak, kualitas tidur yang memburuk, serta penurunan gairah seksual secara drastis tidak boleh diabaikan begitu saja. Dalam akun Youtubenya, dr. Wedelia Sadina Putri menjelaskan, kombinasi gejala tersebut bisa menjadi sinyal bahwa ovarium atau indung telur sedang mengalami gangguan serius.

Apa Itu Hipogonadisme pada Wanita?

Sebagai wanita, hormon seks seperti estrogen dan progesteron merupakan komponen vital bagi kesehatan reproduksi. Hormon-hormon inilah yang berperan mengatur siklus menstruasi, menjaga kekenyalan kulit, memperkuat kepadatan tulang, serta memungkinkan terjadinya proses kehamilan.

Dalam kondisi normal, produksi hormon tersebut berlangsung di dalam ovarium atau indung telur. Namun, pada kasus hipogonadisme, "pabrik" hormon ini berhenti berproduksi atau hanya menghasilkan hormon dalam jumlah yang sangat minim.

Secara medis, hipogonadisme pada wanita didefinisikan sebagai kondisi ketika ovarium kehilangan fungsinya sebelum waktunya sehingga tidak memproduksi sel telur secara normal dan tidak menghasilkan hormone estrogen dalam kadar yang mencukupi kebutuhan tubuh. Kondisi ini dapat dialami oleh wanita di berbagai rentang usia, termasuk mereka yang masih berada di fase muda dan produktif.

Dua Jenis Hipogonadisme

Pemahaman mengenai jenis hipogonadisme sangat krusial karena memengaruhi pendekatan diagnosis maupun pengobatan yang akan diterapkan. Secara umum, hipogonadisme dibagi menjadi dua kategori.

  1. Hipogonadisme Primer

    Pada jenis ini, sumber masalah terletak langsung pada indung telur itu sendiri. Sinyal perintah dari otak sudah dikirimkan melalui jalur hormonal yang normal, namun indung telur tidak merespons atau telah mengalami kerusakan sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya. Kondisi ini sering ditemukan pada kasus menopause dini atau pada kasus kelainan genetic.

  2. Hipogonadisme Sekunder

    Berbeda dengan jenis pertama, pada hipogonadisme sekunder masalah utamanya justru berasal dari otak yang gagal mengirimkan sinyal hormonal kepada indung telur. Dalam kondisi ini, indung telurnya sebenarnya sehat dan siap bekerja, namun tidak mendapatkan instruksi yang diperlukan untuk berproduksi.

    Hipogonadisme sekunder kerap dipicu oleh faktor gaya hidup dan kondisi psikologis, seperti stress berat yang berkepanjangan, pola makan ekstrem yang menyebabkan defisit kalori parah, serta olahraga berlebihan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Mengenali gejala hipogonadisme sejak dini merupakan langkah kritis dalam mencegah dampak jangka panjang. Berikut adalah tanda-tanda hipogonadisme:

  • Amenore (berhenti haid) selama 3 bulan atau lebih tanpa sebab kehamilan

  • Hot flashes, semburan panas di wajah dan dada yang bikin keringat dingin terutama di malam hari

  • Perubahan fisik payudara terasa mengecil atau kurang kencang

  • Perubahan mood, mudah cemas dan penurunan berkonsentrasi

  • Gangguan tidur dan insomnia

  • Penurunan hasrat seksual dan nyeri saat berhubungan intim

  • Kekeringan pada area vagina

  • Penurunan kepadatan tulang yang berisiko osteoporosis dini

Pentingnya Penanganan Segera

Hipogonadisme bukanlah kondisi yang harus ditanggung secara diam-diam. Dengan diagnosis yang tepat dan penanganan medis yang sesuai, perubahan gaya hidup, atau intervensi lainnya, kualitas hidup penderita dapat ditingkatkan secara signifikan.

Apabila gejala-gejala di atas mulai dirasakan, terutama dalam kombinasi yang mencurigakan, langkah pertama yang dianjurkan adalah segera berkonsultasi dengan tenaga medis profesional. Semakin cepat kondisi ini ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi jangka panjang seperti osteoporosis, penyakit kardiovaskular, hingga gangguan kesuburan permanen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....