Psikolog: Pemulihan Psikologis Anak Korban Kekerasan Daycare Butuh Deteksi Dini

  • 30 Apr 2026 10:51 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Kasus kekerasan anak yang terjadi di tempat penitipan anak atau daycare Little Aresha menyisakan dampak yang tidak ringan, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban. Proses pemulihan tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga menyangkut kesehatan psikologis yang kerap tidak terlihat secara kasatmata.

Ketua Program Studi Psikologi Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, mengatakan bahwa langkah awal yang penting adalah melakukan deteksi sedini mungkin. Ia menjelaskan, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Salah satu tanda yang sering muncul adalah regresi, yakni kemunduran dari kemampuan yang sebelumnya telah dikuasai.

"Contohnya anak yang sudah mandiri ke toilet kembali mengompol, atau yang sebelumnya lancar bicara menjadi kesulitan berkomunikasi," ujarnya, Kamis, 30 April 2026.

Selain itu, gangguan tidur juga menjadi sinyal yang perlu diperhatikan, seperti sering mengalami mimpi buruk, berteriak saat tidur, hingga sulit beristirahat. Anak juga bisa menunjukkan perubahan perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, menjadi lebih agresif, atau berulang kali memainkan tema kekerasan saat bermain.

Menurut Andhita, rasa rakut yang berlebihan terutama ketika harus berpisah dengan orang tua atau pengasuh, juga menjadi indikator penting. "Jika gejala tersebut muncul, sebaiknya segera dikonsultasikan dengan tenaga profesional," katanya.

Meski demikian, kata Andhita, bila gejala belum terlalu menonjol, orang tua tetap dapat mengambi peran dalam proses pemulihan. Salah satu caranya yakni melalui media ekspresi non-verbal, seperti menggambar, bermain peran dengan boneka, atau bercerita lewat permainan.

Menurutnya, anak-anak belum tentu mampu mengungkapkan perasaan melalui kata-kata, sehingga perlu dibantu dengan cara lain. "Melalui gambar misalnya, kita bisa melihat gambaran emosi anak, seperti dominasi warna gelap atau merah," ucapnya.

Ia juga menekankan pentingnya validasi emosi anak. Orang tua diharapkan tidak meremehkan atau mengabaikan perasaan anak.

Alih-alih mengatakan “tidak apa-apa” atau “jangan berlebihan”, orang tua disarankan untuk mengakui emosi yang dirasakan anak, misalnya dengan mengatakan bahwa rasa takut itu wajar dan orang tua hadir untuk mendampingi. Pola pikir pun perlu diubah, dari menyalahkan perilaku anak menjadi memahami apa yang sebenarnya dialami anak.

Kehadiran fisik yang hangat, seperti pelukan dan sentuhan lembut, juga memiliki peran besar dalam memulihkan rasa aman. Dalam konsep kelekatan (attachment), kedekatan dengan figur yang memberikan rasa aman menjadi faktor penting dalam membantu anak mengelola emosinya.

Selain itu, anak juga perlu dibantu untuk kembali merasakan kendali atas dirinya. Pengalaman kekerasan sering membuat anak merasa tidak berdaya.

Dari sisi dampak, Andhita menyebutkan bahwa dalam jangka pendek, perubahan perilaku dan emosi biasanya lebih mudah terlihat. Namun, dampak jangka panjang justru perlu diwaspadai karena dapat muncul di kemudian hari dalam bentuk gangguan psikologis.

Ia menegaskan bahwa trauma bukan soal melupakan peristiwa, melainkan bagaimana membangun kembali rasa aman pada anak. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu dan tidak bisa berlangsung secara instan. Dukungan bagi orang tua juga menjadi hal yang tak kalah penting.

Unisa Yogyakarta menyediakan layanan pendampingan tidak hanya untuk anak, tetapi juga bagi orang tua yang kerap mengalami tekanan mental, rasa bersalah, hingga stres akibat kejadian tersebut. Ia mengingatkan bahwa orang tua juga membutuhkan ruang aman agar mampu mendampingi anak dengan optimal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....