Waspada Autoimun Mata, Ancam Penglihatan Permanen tanpa Gejala Awal
- 29 Apr 2026 10:15 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Penyakit autoimun pada mata menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kerusakan permanen jika tidak ditangani sejak dini. Kondisi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi dari infeksi justru menyerang jaringan mata sendiri. Akibatnya, muncul peradangan kronis pada berbagai bagian mata yang berpotensi mengganggu fungsi penglihatan.
Dokter spesialis mata, Widyandana, menjelaskan bahwa mata merupakan organ yang sangat sensitif karena memiliki banyak pembuluh darah dan saraf. “Penyakit ini tidak menular, tapi bisa merusak mata permanen kalau telat ditangani,” ujarnya dalam program siaran Komunitalk di Pro2 RRI Yogyakarta, Jumat 24 April 2026. Ia mengibaratkan kondisi ini seperti satpam yang salah mengenali pemilik rumah sebagai pencuri, sehingga justru menyerang pihak yang seharusnya dilindungi.
Penyebab pasti penyakit autoimun mata hingga kini belum sepenuhnya diketahui. Namun, para ahli sepakat bahwa kondisi ini dipicu oleh kombinasi faktor genetik, lingkungan, dan hormon. Riwayat keluarga dengan penyakit autoimun seperti lupus atau rheumatoid arthritis meningkatkan risiko seseorang. Selain itu, pemicu seperti infeksi, stres berat, kurang tidur, paparan sinar ultraviolet, hingga kebiasaan merokok juga dapat mengaktifkan penyakit ini.
Faktor hormonal turut berperan, di mana perempuan diketahui tiga kali lebih rentan dibandingkan laki-laki, terutama pada usia produktif 20 hingga 50 tahun. “Intinya, bakat ditambah pemicu akan membuat autoimun menjadi aktif, seperti api yang menyala karena ada bahan bakar dan pemantik,” katanya.
Penyakit autoimun dapat menyerang berbagai bagian mata, mulai dari lapisan tengah (uveitis), bagian putih mata (scleritis), hingga saraf optik (optic neuritis). Selain itu, kondisi seperti sindrom Sjogren dapat menyebabkan mata kering berat, sementara gangguan tiroid autoimun bisa memicu mata menonjol dan penglihatan ganda. Setiap jenis memiliki keterkaitan dengan penyakit autoimun sistemik tertentu yang perlu diidentifikasi secara menyeluruh.
Gejala yang muncul sering kali bersifat kambuhan dan tidak membaik dengan obat tetes biasa. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain mata merah menahun, nyeri berdenyut, penglihatan kabur, sensitivitas tinggi terhadap cahaya, hingga sensasi seperti ada pasir di mata. “Kalau disertai gejala sistemik seperti nyeri sendi, sariawan berulang, atau ruam kulit, maka kecurigaan terhadap autoimun harus semakin kuat,” ucapnya.
Proses diagnosis memerlukan kerja sama antara dokter mata dan dokter penyakit dalam atau reumatologi. Pemeriksaan meliputi anamnesis, evaluasi mata lengkap menggunakan slit lamp dan funduskopi, hingga tes laboratorium untuk mendeteksi penyakit autoimun yang mendasari. Tanpa penanganan yang tepat, peradangan kronis dapat memicu komplikasi serius seperti katarak, glaukoma, hingga kebutaan permanen. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama dalam mencegah kerusakan yang lebih luas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....