Beredar Klaim Virus HIV Tidak Ada, Begini Tanggapan Para Dokter
- 22 Apr 2026 19:54 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Media sosial tengah ramai membicarakan sepasang suami istri yang menyebarkan informasi keliru terkait keberadaan virus HIV. Mereka bahkan menyatakan bahwa virus HIV tidak ada, serta menggelar webinar untuk menyuarakan klaim tersebut.
‘’Yang tadi malam ikut webinar, mulai paham kan kenapa kami bilang virus HIV tidak ada?’’ tulis akun Nanik Zakiah Rohani di Facebook. Tak sedikit warga netizen yang mempercayainya. ‘’Paham, untung aku hanya minum ARV 5 hari aja, itupun dah kurus hitam aku kliyengan ternyata ARV lah yang membuat parah,’’ tulis salah satu netizen yang percaya klaim tersebut.
Ramainya pembahasan mengenai klaim Virus HIV Tidak Ada, membuat sejumlah dokter menyampaikan respon keras melalui media sosial. Mereka mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi kesehatan yang disampaikan oleh influencer tanpa dasar ilmiah yang jelas.
Salah satunya adalah dokter Adam Prabata. “Hoax, menyesatkan, berbahaya!! Sebenarnya yang paling dikhawatirkan dari narasi semacam ini adalah orang lain terpengaruh dan menjadi destruktif untuk dirinya sendiri,’’ katanya dalam unggahan di instagram akun pribadi @adamprabata.
Dalam unggahannya, dokter Adam Prabata juga mencontohkan komentar warganet sebagai argumentasi yang tidak tepat dan tidak berdasarkan bukti ilmiah.
Sementara itu, dr. Maria Silvia Merry, M.Sc., Sp.MK. yang merupakan dokter spesialis mikrobiologi klinik di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, merasakan geram hingga turut menanggapi tentang klaim Virus HIV tidak ada. Menurutnya klaim HIV tidak ada bukan sekadar keliru, tapi hal itu menyakiti jutaan orang yang setiap hari berjuang hidup dengan virus ini.
‘’Menyebarkan hoaks ini bukan hanya salah, tapi juga menghapus empati dan menghambat orang untuk mencari bantuan. Kita butuh kebenaran dan kepedulian, bukan penyangkalan,’’ katanya kepada RRI pada Minggu, 22 April 2026.
Dokter yang akrab dipanggil dengan dokter Silvi itu juga menyebutkan World Health Organization dan UNAIDS telah membuktikan secara ilmiah bahwa HIV nyata, bisa dideteksi, dan tanpa pengobatan dapat berkembang menjadi AIDS. Di balik data itu ada manusia: anak, orang tua, sahabat yang bertahan berkat pengobatan dan dukungan, bukan penyangkalan.
Mengenai obat ARV yang harus diminum setiap hari oleh ODHIV, menurut dokter Silvi, hal itu akan berbahaya bagi ODHIV seandainya terpengaruh dengan klaim hoax yang beredar di media sosial.
“Orang yang sudah teratur minum obat ARV lalu menghentikan pengobatan karena termakan hoax maka virus akan kembali terdeteksi dalam tubuh kurang dari 20 hari, dan dia berpotensi menularkan kembali,’’ ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....