Bukan Covid, Ini Virus Paling Mematikan di Dunia
- 30 Mar 2026 22:26 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dibalik gigitan hewan yang kerapkali dianggap sepele, tersembunyi ancaman yang sangat mematikan, yaitu Rabies. Bahkan dengan tingkat kematian yang hampir mencapai 100 persen setelah gejala klinis muncul serta lebih menakutkan jika dibandingkan Covid-19.
Data dari World Health Organization (WHO) mencatat, puluhan ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat rabies, dan mayoritas terjadi di Asia dan Afrika. Ironinya, penyakit ini disebabkan oleh virus, yang sebenarnya bisa dicegah melalui vaksinasi pada hewan penular, yang bisa berpotensi pada hewan peliharaan baik anjing ataupun kucing.
Berdasarkan data komperehensif dari WHO dan CDC, Rabies menduduki posisi pertama sebagai virus yang paling mematikan di dunia. Seperti dikutip dari Mongabay, klasifikasi bahaya virus diukur melalui Case Fatality Rate (CFR) yang merefleksikan persentase kematian pada individu yang terinfeksi.
Indikator ini merupakan parameter penting dalam ilmu virologi untuk menentukan tingkat keganasan sebuah agen infeksius di luar jumlah total kasus global. Rabies menduduki posisi puncak dengan tingkat fatalitas klinis mendekati 100 persen setelah gejala muncul karena sifat patogennya yang menyerang sistem saraf pusat secara irreversible. Artinya, tidak dapat kembali seperti semula, saat sudah terinfeksi.
Berikut di antaranya 10 virus paling mematikan di dunia, data dari World Health Organization (WHO) dan CDC berdasarkan tingkat fatalitas kasus:
- Rabies : 100 persen
- B Virus (Herpes B) : 80 persen
- Lujo Virus : 80 persen
- Nipah Virus : 75 persen
- Hendra Virus : 57 persen
- Ebola : 50 persen
- Marburg : 50 persen
- H5N1 (Flu Burung) : 50 persen
- CCHF (Crimean-Congo) : 40 persen
- MERS-CoV : 36 persen
Mayoritas virus dalam daftar ini dikategorikan sebagai penyakit zoonosis yang berasal dari reservoir satwa liar seperti kelelawar buah, pengerat hingga dromedari. Penularan dari hewan ke manusia kini semakin tereskalasi akibat fragmentasi habitat, perubahan iklim, serta urbanisasi yang mempersempit jarak interaksi biologis.
Melihat tingginya tingkat fatalitas virus-virus tersebut, kewaspadaan menjadi kunci utama. Pencegahan sejak dini, mulai dari menjaga interaksi aman dengan hewan, meningkatkan kesadaran masyarakat, hingga penguatan sistem kesehatan, menjadi langkah penting untuk menekan risiko penularan.
Seperti diingatkan oleh WHO, ancaman penyakit zoonosis akan terus ada, tapi dampaknya dapat diminimalkan jika manusia lebih siap, peduli, dan responsif terhadap perubahan lingkungan di sekitarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....