Dialog Interaktif Membahas Pentingnya Cara Makan yang Benar

  • 25 Feb 2026 10:42 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Program dialog interaktif RRI Yogyakarta Kawruh edisi Rabu, 25 Februari 2026 terkait cara makan. Cara makan yang benar dan baik untuk mendapatkan kesehatan.

Program dialog menghadirkan narasumber dari bidang kesehatan /terapis Komunitas Bengkel Bumi Ahmad Zaenul. Dialog membahas life style cara makan dan cara minum. Cara makan yang benar akan memberikan efek pada tubuh.

Untuk kita beraktifitas memerlukan nutrisi. Tenaga untuk berbicara, mengetik di laptop, dan mata yang membutuhkan nutrisi. Ketika sudah sakit, tidak bisa diperbaiki maka kita akan berpikir kekurangan vitamin A. Kita juga harus banyak makan wortel.

Pakar bidang kesehatan Ahmad Zaenul mengatakan sering dilupakan proses untuk menghasilkan vitamin itu di tubuh melalui mulut. Awalnya dari tangan dan mulai pencernaan. Jika tercampur air liur makanan akan masuk lambung dan kerja lambung tidak berat. Lambung tidak lelah dan terjadi peremasan yang baik. Kalau makanan yang dikunyah sebentar kasar dan masuk ke lambung, akan terjadi peradangan di lambung. “Sakit lambung langsung beli obat maag. Itu tidak benar, “katanya.

Ada peradangan dan makanan masuk lambung kurang lembut, kita mikir makanan lembut padahal yang diselesaikan bukan makanan yang masuk tetapi prosesnya dikunyah lama supaya menjadi bubur. “Mengunyah lama, contohnya daging. Karena daging pedas kita langsung cepat minum, itu kesalahan juga. Meskipun enak daging dan dikunyah cepat-cepat dan kita tidak melihat kualitas dan lambung bisa menyerap maksimal,“ katanya.

Riset menunjukkan orang orang itu cara makan tidak diperhatikan dan cara minum tidak diperhatikan. “Sebenarnya semuanya mengacu pada sunah-sunah dan cara tidur juga," ucapnya.

Untuk cara makan yang dikunyah lama sehingga output nutrisi yang dimakan sempurna. Hal ini berpengaruh pada kerja lambung yang tidak berat dan kerja usus tidak berat. Tubuh ini sangat cerdas dan secara tidak sadar cara minum biasa dan di Islam dicontohkannya diteguk tiga kali.

“Tekad kita kurang karena kebiasaan kecil dibangun sejak kecil dan tidak ada edukasi orang tua. Sehingga pola ingkungan terbentuk seperti ini, tidak sakit dan terbentuk lama,”katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....