Penelitian Terbaru, Deforestasi Sebabkan Nyamuk Lebih Haus Darah

  • 04 Feb 2026 10:52 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Deforestasi yang kian masif, tak hanya menghilangkan pepohonan, tapi juga telah merusak keanekaragaman hayati. Hutan yang selama ini telah menjadi habitat nyamuk pun, rusak dan makin menyempit.

Seiring menyempitnya hutan, serangga sebagai vektor penyakit ini makin menyerang manusia, sehingga membawa ancaman baru bagi kesehatan manusia. Tentu menjadi sebuah hal yang tidak diduga, bahwa deforestasi bisa menyebabkan nyamuk lebih mendekat ke manusia.

Sebuah studi diterbitkan dalam jurnal Frontiers dengan tajuk Aspects of the blood meal of mosquitoes (Diptera: culicidae) during the crepuscular period in Atlantic Forest remnants of the state of Rio de Janeiro, Brazil. Seperti dikutip dari National Geographic Indonesia dalam akun instagram resminya di @natgeoindonesia, studi itu menunjukkan, serangga yang berdengung dan menggigit ini memainkan peran yang semakin besar dalam peningkatan penularan Zika, demam kuning, demam berdarah, dan penyakit lain yang ditularkan nyamuk kepada manusia.

Peningkatan penularan penyakit itu sebagian berkat hilangnya habitat. Artinya seiring menyusutnya hutan dan hilangnya satwa liar, nyamuk semakin beralih ke manusia untuk menghisap darah.
Studi juga menyebutkan bahwa daerah dengan deforestasi yang lebih parah, memiliki kelimpahan nyamuk yang lebih tinggi. 
Hal ini trjadi karena habitat yang terganggu mendukung spesies yang berkembang di dekat manusia.

“Nyamuk yang biasanya mengisap darah inang lain di dalam habitat. Mereka dapat beralih ke manusia jika habitat tersebut tidak lagi cocok untuk inang tersebut dan mereka pergi,” kata Laura Harrington, seperti dikutip dalam unggahan di akun @natgeoindonesia.

Laura Harrington sendiri adalah seorang profesor entomologi di Cornell University. Sergio Lisboa Machado, salah satu  penulis studi, mengatakan bahwa nyamuk adalah oportunis yang tidak menjelajah jauh untuk mencari makanan.

“Jadi mereka mulai mencari manusia karena nyamuk jarang terbang jauh, mereka tidak akan menghabiskan banyak energi untuk mencari sumber makanan lain,” katanya.

Dalam laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), disebutkan lebih dari 17 persen semua penyakit menular disebabkan oleh penyakit yang ditularkan melalui vektor. Artinya, penyakit yang ditularkan ke manusia oleh organisme hidup, seperti nyamuk, kutu dan lalat, menyebabkan lebih dari 700.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....