Beda GERD dan Jantung: Hindari Dunning-Kruger Effect

  • 30 Jan 2026 13:53 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Belakangan ini, lini masa media sosial di Indonesia diramaikan oleh perdebatan antara ahli medis profesional dengan netizen terhadap penyebab meninggalnya seseorang. Polemik ini bermula ketika sejumlah pakar, termasuk dr. Bobby Arfhan Anwar dan dr. Tirta, menegaskan bahwa Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tidak memiliki hubungan langsung dengan serangan jantung atau henti jantung. Namun, pernyataan ilmiah ini justru dibalas dengan hujatan oleh netizen yang merasa pengalaman pribadinya lebih valid daripada studi medis bertahun-tahun.

Gejala keduanya mirip karena secara anatomi, kerongkongan dan jantung terletak berdekatan di area dada dan berbagi jalur saraf yang sama. Iritasi asam lambung pada penderita GERD dapat merangsang saraf vagus, yang memicu palpitasi atau jantung berdebar. Hal inilah yang sering membuat orang awam panik dan mengira sedang mengalami serangan jantung. Namun, dokter menegaskan perbedaannya sangat kontras. Nyeri GERD biasanya terasa panas terbakar (heartburn) dan membaik dengan antasida, sementara nyeri serangan jantung terasa seperti ditekan benda berat, sering disertai keringat dingin, dan bersifat fatal jika tidak segera ditangani.

Baca Juga: Atasi GERD dengan Makanan dan Gaya Hidup Sehat

Para pakar telah menjelaskan perbedaan keduanya dengan teori medis, akan tetapi netizen membantahnya berdasarkan kepercayaan mereka sampai menyuruh pakar "belajar lagi". Kondisi ini merupakan manifestasi nyata dari Dunning-Kruger Effect. Terjadinya bias kognitif di mana individu dengan pengetahuan terbatas justru merasa memiliki kompetensi luar biasa. Mereka mengalami "beban ganda": tidak memiliki literasi kesehatan yang cukup untuk memahami fakta, sekaligus kehilangan kemampuan metakognitif untuk menyadari ketidaktahuan tersebut. Akibatnya, mereka terjebak di "Puncak Gunung Kebodohan", di mana kepercayaan diri sangat tinggi meski pemahaman faktualnya nol.

Baca Juga: Mengenal Istilah Dunning Kruger Effect

Ada langkah preventif agar tidak terjebak dalam bias serupa, masyarakat perlu menerapkan strategi "Think Again" atau pemikiran ulang yang dipopulerkan oleh psikolog Adam Grant. Berikut adalah langkah praktisnya:

  1. Gunakan Mode Ilmuwan (Scientist Mode): Berhentilah menjadi "pengkhotbah" yang membela mati-matian keyakinan lama atau "jaksa" yang menyerang pendapat orang lain demi mempertahankan pendapat yang belum tentu kebenarannya. Mulailah selalu mempertanyakan pendapat Anda dan memperlakukannya sebagai hipotesis yang perlu diuji kebenarannya melalui data pakar.
  2. Kembangkan Confident Humility: Anda boleh percaya diri pada kemampuan Anda, namun dalam proses belajar, tetaplah rendah hati untuk mengakui bahwa Anda belum mengetahui segala hal.
  3. Lakukan Rethinking Check-up: Secara berkala, pertanyakan asumsi yang Anda yakini. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah informasi ini berasal dari jurnal, artikel yang valid atau sekadar testimoni anonim di sosial media?".
  4. Bangun Jaringan Penantang (Challenge Network): Jangan hanya setuju dengan pendapat yang sama dengan Anda. Coba cari data dari para ahli dan situs kredibel untuk menantang ketidaktahuan kognitif Anda.

Memahami bahwa GERD tidak menyebabkan mati mendadak adalah literasi medis, namun menyadari bahwa kita mungkin salah dalam berargumen adalah kematangan intelektual. Di era digital, kemampuan untuk "berpikir ulang" jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi yang paling vokal di kolom komentar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....