PKT UGM Menjawab Pertanyaan Netizen Tentang Mpox

  • 08 Okt 2024 19:08 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM melalui konten “TropmedAsk” mengompilasi pertanyaan-pertanyaan terkait Mpox yang muncul di media sosial dan menghadirkan narasumber yang tepat untuk menjawabnya. Narasumber yang dihadirkan adalah dr Eggi Arguni, MSc, PhD, Sp A(K), dokter spesialis anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito, sekaligus peneliti PKT UGM.

Di awal sesi, Eggi menjawab pertanyaan tentang penyebab penyakit Mpox. “Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus Monkeypox,” katanya, menjelaskan.

Virus ini berasal dari genus yg sama (Orthopoxvirus) dengan virus Variola, penyebab cacar/small pox. Padahal cacar telah dinyatakan eliminasinya sejak 1980. Kemudian dr Eggi menjelaskan terdapat dua jenis penularan Mpox.

“Awalnya (Mpox) merupakan penyakit zoonosis, ditularkan oleh hewan ke manusia,” ujarnya. Namun, lama kelamaan virus Mpox dapat menular dari manusia ke manusia lain tanpa perantara hewan. Penyebarannya bisa secara langsung melalui droplet yang keluar saat pasien Mpox bersin, batuk atau berteriak. Mpox juga bisa ditularkan secara langsung melalui hubungan seksual, baik oral, vaginal maupun anal.

Pertanyaan netizen yang dikompilasi oleh tim cukup beragam. Misalnya, ada yang bertanya tentang kemungkinan kembali diberlakukan lockdown.

“Semoga tidak, ya,” kata Eggi, menjawab pertanyaan.

Eggi mengatakan terdapat perbedaan antara Mpox dengan Covid-19. Semua orang memiliki potensi yang sama untuk terkena Covid. Pada penyakit Mpox, terdapat kelompok tertentu yang berisiko tertular virusnya. Adapun lockdown diberlakukan untuk mencegah transmisi infeksi yang bersifat massal, seperti COVID-19.

Ada pula netizen yang mengaitkan Mpox dengan teknologi nyamuk ber-Wolbachia yang sedang diimplementasikan oleh pemerintah untuk menanggulangi demam berdarah dengue (DBD). Terkait hal ini, dr. Eggi menegaskan bahwa penyakit Mpox sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyebaran nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia baik yang dahulu dilakukan di Yogyakarta maupun di kota-kota lainnya. “Ini dua penyakit yang berbeda, virusnya berbeda, cara penularannya pun berbeda,” kata Eggi lebih lanjut.

Di bagian akhir, Eggi menganjurkan Sobat Tropmed untuk segera mengunjungi fasilitas layanan kesehatan terdekat jika mengalami tanda gejala Mpox. Jika termasuk dalam kriteria suspek, maka akan diambil sampel yang akan diperiksa di laboratorium. (ratih/ras/atang)


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....