Hujan Belum Merata, Jawa Masih Menunggu
- 07 Okt 2026 09:00 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Indonesia, tetapi musim penghujan belum datang secara merata. Kondisi ini membuat sejumlah daerah, terutama di selatan khatulistiwa, masih menghadapi cuaca panas dan kering.
Peneliti Senior Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, mengatakan pola hujan saat ini berbeda antarwilayah. Wilayah utara khatulistiwa cenderung lebih dahulu memasuki musim hujan dibandingkan wilayah selatan.
Sumatra bagian utara dan Kalimantan secara umum mulai mengalami musim hujan. Sementara itu, Lampung dan Sumatra Selatan baru mengalami hujan di sebagian wilayah.
Kondisi berbeda terlihat di Pulau Jawa, yang pola hujannya belum seragam. Bogor dan sekitarnya menjadi salah satu wilayah yang lebih konsisten menerima hujan.
Menurut Erma, kondisi tersebut dipengaruhi faktor geografis dan topografi wilayah. Pegunungan seperti Gunung Salak dan Gunung Gede membantu pembentukan awan hujan di sekitar Bogor.
Sebaliknya, Jawa Tengah hingga Jawa Timur masih relatif menunggu datangnya hujan yang lebih merata. Minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari langsung meningkatkan suhu permukaan.
Erma menjelaskan, hujan yang turun saat ini belum bisa menjadi tanda musim hujan telah dimulai secara menyeluruh. "Intinya di utara khatulistiwa sudah masuk musim hujan, tapi di selatan waktunya beragam," kata Erma.
Masyarakat juga perlu mewaspadai kemungkinan jeda hujan atau monsoon break. Fenomena tersebut berpotensi menyebabkan hujan kembali berkurang setelah periode hujan berlangsung.
Kondisi basah yang lebih merata di Pulau Jawa diperkirakan baru terbentuk kemudian. Pola tersebut menunjukkan masa peralihan menuju musim hujan masih berlangsung.
Sebelumnya, BMKG juga memperkirakan musim hujan 2026 mengalami kemunduran akibat pengaruh El Nino. Sejumlah wilayah diproyeksikan memasuki musim hujan pada Oktober, sementara wilayah lainnya menyusul pada November dan Desember.
Perbedaan waktu datangnya hujan membuat masyarakat tidak bisa menggunakan satu patokan untuk seluruh Indonesia. Pemantauan kondisi cuaca tetap diperlukan karena perubahan dapat berlangsung cepat pada masa peralihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....