Tekan Keterlambatan Diagnosis TBC, Mahasiswa UII Kembangkan RespiraTB

  • 04 Okt 2026 15:45 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Keterlambatan diagnosis Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan mendasar di dunia kesehatan, sering kali, gejala awal seperti batuk dan sesak napas ringan diabaikan oleh masyarakat. Menjawab persoalan ini, tim mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta mengembangkan RespiraTB, sebuah platform wearable (perangkat yang dapat dikenakan) berbasis teknologi IoT untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time.

RespiraTB dirancang khusus sebagai alat skrining awal untuk mendeteksi gangguan pernapasan serta mendorong masyarakat yang memiliki gejala mencurigakan TBC agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Inovasi ini dikembangkan oleh tim lintas disiplin yang dipimpin oleh Afwan Aditya Saputra Program Studi Informatika, Program Sarjana FTI 2025) bersama Isfana Fatimah Darman (Program Studi Kedokteran 2025) dan Huda Nur Ihsan Muhammad Akbar (Program Studi Manajemen Rekayasa 2025) di bawah bimbingan Ir. Ali Parkhan, M.T. Karya ini dipersiapkan melalui riset kewirausahaan untuk ajang The 12th UTU Awards 2026.

Afwan Aditya Saputra mengatakan, RespiraTB merupakan inovasi platform wearable berbasis sensor accelerometer yang dikembangkan untuk memantau karakteristik pernapasan secara non-invasif dan real-time. Menurutnya, inovasi ini dirancang sebagai alat skrining awal untuk membantu mendorong masyarakat yang memiliki gejala mencurigakan tuberkulosis (TBC) agar tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

Afwan menjelaskan, RespiraTB memanfaatkan sensor accelerometer/IMU untuk membaca perubahan gerakan mekanis dinding dada dan aktivitas otot bantu pernapasan. Data diproses menggunakan ESP32, algoritma filtering, serta sistem skoring berbasis ambang statistik sebelum dikirim secara nirkabel ke aplikasi mobile melalui platform Firebase. Sistem dirancang untuk memantau respiratory rate (RR) dan work of breathing (WoB).

"Hasil pengujian menunjukkan RespiraTB memiliki akurasi pembacaan respiratory rate sebesar 96,28 persen dibandingkan penghitungan manual. Deviasi maksimal yang ditemukan sebesar satu napas per menit. Sementara itu, sensor accelerometer MPU6050 memperoleh akurasi rata-rata 92,08 persen dalam pengujian terhadap metode Esophageal Pressure Catheter (Pes)," katanya, Jumat, 2 Oktober 2026.

Afwan menambahkan, sistem juga diuji melalui empat skenario, yakni sensor terhubung, kondisi normal, perlu pemantauan, dan segera diperiksa. Seluruh skenario menunjukkan keberhasilan klasifikasi 100 persen sesuai kategori yang ditetapkan. Pengiriman data dari ESP32 ke Firebase mencapai tingkat keberhasilan 100 persen dengan waktu transmisi rata-rata 2,2 detik.

Dalam rancangan aplikasinya, RespiraTB menampilkan Indeks Pernapasan dalam skala 0–100 yang dikategorikan menjadi Normal, Perlu Pemantauan, dan Segera Periksa. Aplikasi juga menampilkan laju napas, aktivitas otot aksesori, pola napas, serta gejala subjektif. Apabila skor meningkat secara konsisten, sistem memberikan notifikasi dan rekomendasi untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

"Tim menegaskan RespiraTB bukan perangkat untuk menggantikan diagnosis medis. Sistem tersebut dirancang sebagai alat skrining awal dengan mengukur indeks risiko pernapasan berdasarkan RR dan WoB. Diagnosis definitif TBC tetap memerlukan pemeriksaan medis profesional," ucapnya.

Jumpa media yang digelar Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta termaik pengembangan RespiraTB, Wearable untuk memantau pernapasan. (Foto: Dok/FTI UII)

Isfana Fatimah Darman menyampaikan, pengembangan RespiraTB dilatarbelakangi persoalan keterlambatan diagnosis TBC. Tim menilai gejala awal seperti batuk atau sesak napas ringan kerap dianggap tidak serius sehingga pemeriksaan medis dilakukan setelah kondisi memburuk.

"Teknologi wearable diposisikan sebagai sarana pemantauan yang dapat memberikan informasi kondisi pernapasan secara kontinu," ujarnya.

Isfana menjelaskan, dari sisi model bisnis, tim memproyeksikan pasar RespiraTB melalui pendekatan business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). Pendekatan B2B diarahkan melalui kemitraan dengan Dinas Kesehatan, dana BOK puskesmas, serta mitra seperti Stop TB Partnership Indonesia dan Global Fund, sementara pendekatan B2C dilakukan melalui kanal digital, edukasi komunitas, dan kolaborasi dengan organisasi kesehatan masyarakat.

Riset tersebut memproyeksikan Total Addressable Market (TAM) sebesar Rp1,035 triliun per tahun. Fokus awal diarahkan ke Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah dengan estimasi Serviceable Available Market (SAM) Rp436,2 miliar per tahun.

"Pada tahun pertama, tim menargetkan penjualan 1.380 unit dengan harga Rp950.000 per unit atau sekitar Rp1,31 miliar," ujarnya, menambahkan.

Diakui, pengembangan selanjutnya masih membutuhkan validasi klinis dalam skala lebih luas, pembuatan prototipe fisik, serta proses perizinan dan sertifikasi alat. Rencana tersebut mencakup pengajuan izin edar kepada Kementerian Kesehatan RI serta sertifikasi yang diperlukan sebelum RespiraTB dapat diterapkan secara lebih luas.

"Melalui pengembangan RespiraTB, tim berharap teknologi wearable, IoT, dan algoritma skoring dapat menjadi bagian dari inovasi pemantauan kesehatan yang praktis dan terjangkau, sekaligus mendukung upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kondisi pernapasan dan mendorong pemeriksaan TBC secara lebih dini," ujarnya, mengungkapkan.

Novelty penelitian ini terletak pada pengembangan platform wearable berbasis accelerometer/IMU yang mengintegrasikan pemantauan respiratory rate dan work of breathing secara kontinu dan non-invasif pada tiga titik otot bantu pernapasan, kemudian menggabungkan data fisiologis tersebut dengan gejala subjektif melalui algoritma skoring untuk menghasilkan indeks risiko pernapasan dan rekomendasi pemeriksaan awal TBC secara real-time melalui ekosistem IoT–mobile.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....