Pustral UGM Dorong Percepatan Peralihan Angkutan Barang ke Kereta Api

  • 06 Sep 2026 18:06 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA — Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) mendorong percepatan peralihan angkutan barang dari moda jalan ke kereta api guna meningkatkan efisiensi logistik nasional. Saat ini, angkutan barang nasional baru menggunakan moda kereta api sebesar 1 persen, sementara 75,3 persen muatan masih bertumpu pada moda jalan.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam webinar bertajuk Kereta Api sebagai Tulang Punggung Logistik Nasional: Arah Kebijakan, Praktik Operasional, dan Peluang Bisnis Angkutan Barang yang diselenggarakan Pustral UGM pada Senin, 31 Agustus 2026.

Kepala Pustral UGM Dewanti menyampaikan bahwa rendahnya pemanfaatan kereta api untuk angkutan barang perlu menjadi perhatian di tengah upaya meningkatkan daya saing logistik Indonesia. Kereta api sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai moda pengangkutan hasil bumi sejak beroperasi di Indonesia pada 1867.

"Kereta api sudah berjalan di negeri ini sejak tahun 1867 dan dahulu menjadi tulang punggung pengangkutan hasil bumi. Mengapa hari ini perannya dalam mengangkut barang justru begitu kecil?" kata Dewanti di Yogyakarta.

Ia menilai rendahnya pangsa angkutan barang kereta api berkaitan dengan terbatasnya jaringan rel yang masih terkonsentrasi di Jawa dan sebagian Sumatra. Keterbatasan konektivitas rel menuju kawasan industri dan pelabuhan membuat pengiriman barang tetap membutuhkan kendaraan angkut pada awal dan akhir perjalanan.

Dari sisi pemerintah, Kepala Subdirektorat Angkutan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Aditya Karsa mengungkapkan bahwa volume angkutan barang kereta api meningkat 39,7 persen dari 50,04 juta ton pada 2021 menjadi 69,91 juta ton pada 2025.

Meski demikian, angka tersebut masih jauh dari target Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNas) 2030 sebesar 995,5 juta ton dengan sasaran pangsa angkutan barang mencapai 11–13 persen.

Guna mendukung target tersebut, pemerintah menyiapkan Peraturan Presiden Nomor 41 Tahun 2026 tentang Penguatan Logistik Nasional, skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta green financing untuk pembangunan prasarana menuju pelabuhan dan kawasan industri.

Sementara itu, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) periode 2020–2025 Didiek Hartantyo menjelaskan bahwa kereta api berperan sebagai moda mid-mile. Keunggulan biaya angkutan rel sangat dipengaruhi oleh kelancaran proses di tahap awal (first mile) dan tujuan akhir (last mile).

Webinar yang dipandu Peneliti Pustral UGM Deni Prasetio ini diikuti lebih dari 850 peserta dari instansi pemerintah, akademisi, serta praktisi perkeretaapian untuk mendorong integrasi sistem logistik nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....