FKT UGM dan APAFRI Gelar Workshop Pengelolaan Spesies Invasif Merapi

  • 27 Agt 2026 16:03 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA — Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (FKT UGM) bekerja sama dengan Asia Pacific Association of Forestry Research Institutions (APAFRI) menyelenggarakan lokakarya Management of Invasive Alien Species (IAS) pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Kegiatan di Grafika Room UC Hotel UGM Yogyakarta ini bertujuan memperkuat kapasitas pengelolaan spesies asing invasif pada ekosistem pasca-erupsi Gunung Merapi. Lokakarya ini merupakan bagian dari proyek penelitian berbasis ekowisata dan keanekaragaman hayati yang didukung APAFRI Research Fund.

Persoalan spesies asing invasif menjadi perhatian penting dalam pemulihan ekosistem Gunung Merapi pasca-erupsi besar 2010. Tumbuhan introduksi seperti Acacia decurrens dan Falcataria moluccana, serta tumbuhan bawah seperti kirinyuh (Chromolaena odorata), kolonjono (Brachiaria mutica), Lantana camara, Clidemia hirta, dan Mikania micrantha berkembang cepat sehingga mengancam regenerasi tanaman asli puspa (Schima wallichii).

Mantan Direktur Kerala Forest Research Institute K.V. Sankaran menjelaskan bahwa invasi biologis merupakan salah satu ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati global.

"Secara global, sekitar 37.000 spesies asing telah tercatat menetap di berbagai wilayah, dengan 3.500 di antaranya dikategorikan sebagai spesies asing invasif. IAS berkontribusi terhadap sekitar 60 persen kepunahan tumbuhan dan satwa secara global," katanya.

K.V. Sankaran menambahkan bahwa strategi penanganan harus disesuaikan dengan tahap invasi, mulai dari deteksi dini, eradikasi, hingga pembatasan.

"Ketika spesies telah tersebar luas, pengendalian perlu diikuti dengan restorasi ekosistem melalui penanaman kembali jenis tanaman asli," ujarnya.

Fasilitator lokakarya dari FKT UGM Sri Rahayu menekankan pentingnya mengintegrasikan pengelolaan IAS dengan ekowisata berbasis keanekaragaman hayati dan partisipasi masyarakat setempat.

"Pendekatan ini penting mengingat kawasan Gunung Merapi memiliki dinamika ekosistem tinggi akibat erupsi sekaligus berinteraksi erat dengan aktivitas masyarakat," ucapnya.

Kegiatan yang diikuti 25 peserta ini dilengkapi dengan Focus Group Discussion (FGD) guna mendorong kolaborasi penelitian antara ilmuwan muda FKT UGM, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), dan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....