UMY Kembangkan Alat Deteksi Penyakit Berat Berbasi AI

  • 27 Agt 2026 13:46 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Pakar Kecerdasan Buatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), sedang mengembangkan teknologi berbasis AI, untuk membuat alat deteksi berbagai penyakit. Mulai dari Penyakit Limfoma Maligna hingga Tumor Otak.

Saat ini, kelima alat tersebut masih berupa prototype, yang seluruhnya sudah memiliki hak cipta dan sudah melewati uji laboratorium dengan akurasi tinggi. Meliputi LymphoScan, myStressD, BrainDetect, myHeartD v3, dan myDBT-Enhance.

Guru Besar Bidang Kecerdasan Buatan UMY, Profesor Slamet Riyadi menjelaskan, LymphoScan merupakan aplikasi berbasis web yang menganalisis citra mikroskopis. Fungsinya untuk mendeteksi jenis limfoma maligna, termasuk CLL, FL, dan MCL.

Sedangkan myStressD, dirancang untuk mendeteksi tingkat stres seseorang melalui analisis citra wajah, yang diunggah menggunakan perangkat mobile. Kemudian BrainDetect mampu mengklasifikasikan jenis tumor otak dari citra MRI sekaligus menampilkan skor keyakinan prediksi.

Di sisi lain, myHeartD v3 dirancang untuk memperkirakan risiko penyakit jantung koroner sesuai data kuesioner pasien. Prototipe myDBT-Enhance berfungsi meningkatkan kualitas citra mammografi, untuk mendukung skrining kanker payudara.

”Kelima aplikasi berbasis teknologi AI ini, dirancang sebagai alat bantu deteksi penyakit,” ucapnya, Kamis, 27 Agustus 2026. ”Bukan sebagai pengganti para praktisi kesehatan.”

Profesor Slamet menjelaskan, riset yang mendasari pengembangan kelima prototipe tersebut mencakup empat kategori utama. Kategori pertama fokus pada pencitraan dada dan sistem pernapasan, termasuk deteksi COVID-19 melalui citra rontgen dan CT scan.

Kategori kedua mencakup risiko kardiovaskular dan metabolik, seperti klasifikasi risiko penyakit jantung, penyakit arteri koroner, diabetes, dan stroke. Sedangkan kategori ketiga, fokus pencitraan kanker.

”Penelitian dalam kategori ini meliputi klasifikasi kanker payudara, sel prakanker serviks, dan kanker ginjal,” katanya. ”Dan kategori keempat berkaitan dengan kesehatan mental dan biosignal, mencakup deteksi stres, emosi, kesehatan mental mahasiswa, serta variabilitas detak jantung.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....