Dikukuhkan Guru Besar UGM, Sony Warsono Dorong Akuntansi Berbasis STEM

  • 09 Agt 2026 13:48 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Akuntansi tidak lagi cukup dipahami sebagai sistem pencatatan keuangan atau sekadar disiplin ilmu sosial. Di era digital, akuntansi perlu dipandang sebagai teknologi informasi keuangan yang terus berevolusi untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cerdas, transparan, dan berkelanjutan.

Gagasan tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) Prof. Sony Warsono saat menyampaikan pidato pengukuhannya di Balai Senat UGM pada Kamis, 6 Agustus 2026. Dalam pidatonya yang berjudul Pengembangan Akuntansi sebagai Ilmu Transdisiplin di Era Digital: Prinsip Dualitas, ia menjelaskan perjalanan panjang akuntansi sebagai teknologi intelektual yang berpijak pada akar yang sama sejak era Renaisans.

“Melalui pendekatan interdisipliner, kita menyadari bahwa penguasaan pengetahuan debit dan kredit bukanlah beban teknis yang kaku, melainkan kompetensi inti yang memungkinkan prinsip dualitas bekerja secara sistematis dalam menjaga keseimbangan informasi keuangan,” katanya.

Ia menuturkan bahwa pengakuan akuntansi sebagai bagian dari bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) semakin menegaskan adanya logika matematika, struktur data, dan proses berpikir yang presisi di balik angka laporan keuangan. Oleh karena itu, pembelajaran akuntansi perlu mengintegrasikan perspektif teknologi, ilmu sosial, dan kemanusiaan.

Pengembangan sistem pencatatan tunggal (single-entry) menjadi berpasangan (double-entry) kini terus berkembang menuju triple-entry accounting. Sistem baru ini memanfaatkan teknologi blockchain sehingga transaksi tersimpan permanen dalam jaringan digital yang aman, transparan, dan mustahil dimanipulasi.

Transformasi tersebut membuka perspektif bahwa akuntansi tidak lagi terjebak dalam perdebatan antara ilmu sosial atau sains. Sebaliknya, akuntansi diposisikan sebagai teknologi informasi keuangan yang mengintegrasikan ketepatan ilmiah dengan tanggung jawab sosial.

“Dengan memperlakukan akuntansi sebagai teknologi, pembelajar akuntansi tidak lagi terjebak dalam ego polarisasi ilmu sosial versus ilmu sains, melainkan fokus pada bagaimana mengembangkan akuntansi demi menciptakan keputusan bisnis yang cerdas, ilmiah, sekaligus transparan secara sosial,” katanya.

Menutup pidatonya, Prof Sony Warsono mengingatkan pentingnya menempatkan kembali kompetensi teknis sebagai motor inovasi. Konsep debit dan kredit perlu dikembangkan bukan sekadar sebagai warisan intelektual, melainkan sebagai algoritma dinamis yang menjadi fondasi teknologi informasi keuangan masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....