Kreatif, Warga Giripurwo Olah Limbah Menjadi Pupuk Berdayaguna
- 27 Jul 2026 09:39 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Gunungkidul - Penumpukan limbah peternakan di Kalurahan Giripurwo kini tak lagi dipandang sebagai beban lingkungan. Mengubah tantangan tersebut menjadi peluang, Tim PPK Ormawa UKMF MDC Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) pada Rabu, 15 Juli 2026.
Kegiatan yang bertempat di GOR Kalurahan Giripurwo ini menghadirkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) sebagai pemateri utama. Tak sekadar menyampaikan teori di dalam ruangan, para peserta juga diajak mengeksekusi langsung materi yang didapat melalui sesi praktik di gudang pakan setempat.

Program ini bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik cair bernutrisi. Guna mempercepat proses fermentasi, pembuatan POC memanfaatkan bahan bioaktivator alami yang melimpah dan mudah ditemukan di lingkungan sekitar masyarakat.
Bahan-bahan bioaktivator tersebut meliputi bonggol pisang cacah, air cucian beras, serta molase (tetes tebu). Selain murah dan praktis, kombinasi bioaktivator ini mampu memperkaya kandungan nutrisi alami yang dibutuhkan oleh tanaman.
Proses pembuatan pupuk organik cair ini relatif sederhana. Langkah awal dimulai dengan menyiapkan alat dan bahan baku, seperti ember beserta tutupnya, kayu pengaduk, bonggol pisang cacah, air cucian beras, molase, dan kotoran ternak.
Dalam praktiknya, racikan utama dibuat dengan mencampurkan kotoran ternak, air cucian beras, dan molase ke dalam ember, kemudian diaduk hingga merata sebelum ditutup rapat. Selain racikan tersebut, campuran lain juga bisa memanfaatkan bonggol pisang yang dipadukan dengan air cucian beras dan molase.

Pihak BPP menjelaskan bahwa kencing hewan ternak bahkan urine manusia juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan POC yang sangat potensial. Seluruh racikan tersebut kemudian memasuki proses fermentasi yang membutuhkan waktu kurang lebih dua minggu. Pihak BPP menyarankan untuk disiplin mengecek dan membuka tutup ember selama 5 menit setiap hari untuk mengeluarkan gas sehingga fermentasi matang sempurna dan menghasilkan cairan pupuk berkualitas.
Lebih dari sekadar penanganan sampah organik, inisiatif ini membawa misi penting untuk membantu para petani menekan ketergantungan pada pupuk kimia.
Kedepannya, program ini diharapkan terus ditingkatkan agar tidak hanya menjadi solusi kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu membuka peluang usaha baru yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat Giripurwo. (Rahma Amalia)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....