Pakar Janabadra Bagikan Rahasia Konstruksi Rumah Tahan Tsunami

  • 09 Jul 2026 20:41 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Ancaman bencana tsunami di wilayah pesisir Indonesia menuntut kesiapan mitigasi yang matang, tidak hanya dari sisi evakuasi mandiri tetapi juga melalui penguatan infrastruktur. Menjelang pengisian program siaran "Kawruh" di RRI pada Jumat, 19 Juli 2026, pakar teknik sipil dari Universitas Janabadra Yogyakarta, Dr.Eng. Mahmud Kori Effendi, ST., MT., membagikan pandangan krusialnya mengenai pentingnya perencanaan bangunan rumah yang adaptif terhadap terjangan tsunami.

Mahmud menjelaskan bahwa tsunami merupakan serangkaian gelombang laut berenergi tinggi yang terjadi akibat perpindahan massa air secara tiba-tiba umumnya dipicu oleh gempa bumi bawah laut, longsoran bawah laut, atau letusan gunung api.

"Saat merambat di laut dalam, tsunami dapat mencapai kecepatan luar biasa hingga 500–800 km/jam. Namun, karena tinggi gelombangnya relatif kecil di laut dalam, ia sulit dideteksi secara visual sebelum akhirnya mencapai pantai," ujar Dosen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Janabadra tersebut saat ditemui tim RRI Kamis, 9 Juli 2026.

Menurut Mahmud, petaka sesungguhnya terjadi ketika gelombang ini memasuki wilayah perairan dangkal dan kawasan pesisir. Tinggi gelombang serta kecepatan arus akan meningkat secara signifikan. Hal inilah yang menghasilkan beban ekstrem pada bangunan di daratan.

Secara teknis, beliau merinci beberapa gaya destruktif tsunami yang wajib diantisipasi dalam dunia konstruksi:

  • Gaya Hidrostatik: Tekanan air statis yang menekan dinding struktur.
  • Gaya Hidrodinamik: Daya dorong kuat dari aliran arus tsunami yang bergerak cepat.
  • Gaya Impak: Benturan keras dari puing-puing (debris) yang terbawa oleh arus.
  • Gaya Apung (Uplift): Tekanan ke atas yang berusaha mengangkat atau mengapungkan bangunan.
  • Gerusan (Scour): Pengikisan tanah di sekitar pondasi yang dapat meruntuhkan stabilitas bangunan.

Melihat kompleksitas beban tersebut, ia menegaskan bahwa perencanaan dan pembangunan rumah tahan tsunami menjadi strategi mitigasi struktural yang sangat vital, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di daerah pesisir dengan tingkat kerawanan tinggi.

Rumah atau bangunan tahan tsunami tidak dirancang secara sembarangan, melainkan wajib memenuhi tiga pilar utama berikut:

  1. Pilar Desain : Implementasi Teknis
  2. Sistem Struktur Kuat : Mampu menahan kombinasi beban hidrostatik, hidrodinamik, hingga gaya impak puing secara simultan.
  3. Konfigurasi Lolosan Air : Desain bangunan dirancang terbuka pada lantai dasar (misal: rumah panggung atau kolom terbuka) agar aliran air dapat melewatinya tanpa menghantam dinding utama.
  4. Pondasi Anti-Gerusan: Sistem pondasi diperdalam dan diperkuat untuk mengurangi risiko kegagalan akibat pengikisan tanah oleh arus (scour).

Selain berfungsi melindungi aset dan infrastruktur penting, bangunan yang memenuhi kriteria ini juga dapat dioptimalkan sebagai Fasilitas Evakuasi Vertikal (FEV) demi menyelamatkan nyawa masyarakat sekitar saat waktu evakuasi horizontal tidak lagi mencukupi.

Di akhir wawancara dengan RRI, Mahmud Kori Effendi mengingatkan, keandalan desain rumah tahan tsunami sangat bergantung pada akurasi data awal. Perencanaan wajib didukung oleh analisis bahaya tsunami yang komprehensif.

"Kita memerlukan pemetaan yang matang, mulai dari peta genangan, peta kecepatan arus, hingga peta risiko di wilayah tersebut. Dengan dukungan data yang andal, struktur yang kita bangun benar-benar memiliki tingkat keandalan memadai untuk mengurangi korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta kerugian ekonomi saat bencana itu melanda," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....