Perdana, PSPPI UII Lantik dan Ambil Sumpah Profesi Insinyur

  • 29 Jun 2026 15:40 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan pelantikan perdana lulusan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) pada hari Minggu, 28 Juni 2026 di Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito Kampus Terpadu. Pelantikan sekaligus pengambilan sumpah tersebut diikuti oleh 78 lulusan yang hadir secara luring dan 6 lulusan yang hadir secara daring. Sebanyak 4 lulusan memilih untuk mengikuti pelantikan pada periode berikutnya.

Program Profesi Insinyur UII secara resmi berdiri pada tanggal 22 April 2025 dan mulai menerima mahasiswa baru pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026. Meskipun baru berdiri, PSPPI UII mendapatkan sambutan yang sangat baik dari masyarakat, dimana jumlah pendaftar mencapai 129 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 99 pendaftar dinyatakan diterima sebagai mahasiswa baru angkatan pertama di mana 88 diantaranya telah berhasil menyelesaikan semua persyaratan yang ditetapkan dan dinyatakan lulus pada bulan Juni 2026. Sedangkan 11 mahasiswa lainnya masih dalam proses menyelesaikan program magang praktik keinsinyuran dan diperkirakan akan lulus pada bulan September 2026.

Ketua Program Studi Program Profesi Insinyur UII, Dr.Eng. Ir. Risdiyono, S.T., M.Eng. menyampaikan, hal yang membedakan antara Program Profesi Insinyur UII dengan program sejenis di universitas lain adalah adanya program sertifikasi keahlian sebagai kompetensi tambahan di bidang inovasi dan penyelesaian masalah menggunakan metode TRIZ. Program tersebut merupakan hasil kerja sama antara UII dengan Malaysia TRIZ Innovation Association (MyTRIZ) dan Indonesia TRIZ Practitioners Association (INTRIZ).

Dengan kerja sama tersebut, saat ini PSPPI UII menjadi satu-satunya program profesi insinyur di Indonesia yang mengintegrasikan bahan kajian TRIZ dalam kurikulum. Mahasiswa yang tertarik untuk mengambil sertifikasi TRIZ dapat mengikuti ujian sertifikasi yang dilakukan di kampus.

"Pada pelantikan kali ini, tercatat sebanyak 18 mahasiswa yang dinyatakan lulus ujian sertfikasi TRIZ Level 1 sehingga berhak mendapatkan sertifikat kompetensi praktisi TRIZ Level satu yang berlaku secara internasional," katanya.

Prosesi pelantikan dipimpin oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Kewirausahaan, Prof. Ir. Eko Siswoyo, S.T., M.Sc.ES., Ph.D. didampingi oleh Plt Dekan Fakultas Teknologi Industri Dr. Ir. Agus Mansur, S.T., M.Eng.Sc., IPU dan Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Prof. Ar. Dr.-Ing. Ir. Ilya Fadjar Maharika, M.A., IAI. Setelah proses pelantikan selesai, acara dilanjutkan dengan pembacaan sumpah/janji profesi insinyur yang disaksikan secara langsung oleh Ketua PII Wilayah DIY, Ir. Tri Budi Utama, M.T., PUSDA, IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

Ketua tim pelaksana Dr. Ir. Dwi Handayani, S.T., M.Sc., IPU., ASEAN.Eng. menyampaikan rasa syukurnya, mengingat acara ini merupakan acara pelantikan dan sumpah profesi insinyur pertama yang diadakan oleh Program Profesi Insinyur UII dan dapat berjalan dengan lancar dan penuh hikmat.

Sementara itu Melky Aliandri sebagai perwakilan lulusan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya ke Program Profesi Insinyur UII yang telah melakukan proses belajar mengajar secara serius, bukan sekedar formalitas.

Sebagai informasi, Indonesia menghasilkan sekitar 180.000–220.000 lulusan dari bidang teknik, teknologi, dan rekayasa setiap tahun dari perguruan tinggi negeri maupun swasta. Kelompok ini merupakan target utama Program Profesi Insinyur, khususnya jalur reguler.

Program Profesi Insinyur tidak hanya diperuntukkan bagi lulusan baru teknik, tetapi juga bagi para profesional yang telah berkarya di bidang rekayasa dan ingin memperoleh pengakuan kompetensi, meningkatkan profesionalisme, serta memenuhi standar praktik keinsinyuran di Indonesia.

Dasar hukumnya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, serta Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Keinsinyuran.

Ketua Program Studi Program Profesi Insinyur UII, Dr.Eng. Ir. Risdiyono, S.T., M.Eng. menambahkan, Program Profesi Insinyur (PPI) bukan sekadar memperoleh gelar Ir., tetapi merupakan proses untuk memperoleh pengakuan kompetensi profesional sesuai standar nasional dan internasional. Terutama memenuhi amanat regulasi profesi keinsinyuran di Indonesia, sejak diterbitkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran, seseorang yang menjalankan praktik keinsinyuran didorong untuk memiliki kompetensi profesi yang diakui.

"Program Profesi Insinyur menjadi jalur resmi untuk memperoleh gelar profesi Insinyur (Ir.) dan merupakan bagian dari sistem pembinaan profesi keinsinyuran," katanya, menambahkan.

Disamping itu juga meningkatkan kredibilitas dan profesionalisme, karena dijelaskan Risdiyono, PPI membekali peserta dengan kompetensi yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga meliputi, etika profesi, keselamatan, kesehatan kerja, dan lingkungan (K3L), profesionalisme, praktik keinsinyuran, dan kemampuan pengambilan keputusan.

"Kompetensi tersebut menjadi pembeda antara lulusan sarjana teknik dengan tenaga profesional yang siap menjalankan praktik keinsinyuran secara bertanggung jawab," ujarnya.

Alasan ketiga memperluas peluang karier dan jenjang profesional, karena dijelaskan Risdiyono, banyak instansi pemerintah, BUMN, perusahaan konsultan, kontraktor, manufaktur, energi, maupun perusahaan multinasional mulai memberikan nilai tambah kepada tenaga kerja yang memiliki kompetensi profesi dan sertifikasi keinsinyuran. Gelar Ir. juga menjadi modal penting untuk mengikuti proses sertifikasi profesional dan pengembangan karier menuju posisi senior maupun manajerial.

Termasuk mendukung proses sertifikasi profesi, lulusan Program Profesi Insinyur memiliki dasar akademik dan profesional untuk melanjutkan proses sertifikasi profesi melalui organisasi profesi sesuai ketentuan yang berlaku. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa seorang insinyur memenuhi standar kompetensi dalam menjalankan praktik keinsinyuran.

Pada sisi daya saing nasional dan internasional, kurikulum PPI disusun mengacu pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) serta mempertimbangkan standar profesi internasional. Hal ini mendukung mobilitas insinyur Indonesia agar lebih kompetitif di tingkat regional maupun global.

Sedangkan dalam mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan penyelesaian masalah, Risdiyono menyebut, program ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan, mengelola proyek, memimpin tim multidisiplin, melakukan analisis risiko, mengambil keputusan strategis, dan menghasilkan solusi inovatif terhadap persoalan keteknikan.

"Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan dalam era transformasi industri dan pembangunan berkelanjutan," ujarnya, mengakhiri.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....