Babon ANIEM, Menguak Kisah Masuknya Listrik di Yogyakarta

  • 06 Jun 2026 23:28 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Dari sekian bangunan cagar budaya di Yogyakarta, tidak banyak yang mengetahui soal Babon ANIEM. Bangunan berbentuk balok ini merupakan bekas gardu listrik yang dibangun pemerintah kolonial Belanda. Babon ANIEM menjadi saksi bisu sejarah adanya listrik di Jogja pertama kali pada abad ke-20 atau sekitar tahun 1914.

Dikutip dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Jogja, ANIEM merupakan singkatan dari Algemene Nederlandsch Indische Electrisch Maatscapij, yaitu perusahaan swasta yang menyediakan listrik di Hindia Belanda pada masanya. Babon ANIEM tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan bentuk bangunan yang berbeda-beda.

Ada tiga babon ANIEM di Jogja yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Ketiga babon ANIEM itu yakni di Kotabaru, Jalan Abu Bakar Ali, dan dekat Pasar Legi Kotagede. Saat ini, perawatan dan pengelolaan ketiganya dilakukan oleh PLN dengan dibantu Disbud Kota Jogja.

Disbud Kota Jogja juga telah menyediakan papan deskripsi mengenai Babon ANIEM di Kotabaru dan Abu Bakar Ali, serta melakukan pemeliharaan di kedua bangunan tersebut.

Dikutip dari Detik.com, pembangunan Babon ANIEM di Kotagede, Kotabaru, dan Abu Bakar Ali terjadi karena dulunya kawasan itu merupakan permukiman elite dan pusat pemerintahan di masa itu.

Kotabaru dulu merupakan kawasan elite pemukiman Belanda dengan arsitektur bernuansa Eropa, sementara Kotagede merupakan tempat tinggal orang kaya pada masa itu, Lain halnya dengan kawasan Abu Bakar Ali yang berada di dekat Jalan Malioboro. Di sana banyak berdiri bangunan-bangunan penting seperti Gedung Marlborough, Loji Gede, Benteng Vredeburg, dan stasiun yang membutuhkan listrik.

Listrik sempat menjadi barang mewah dan langka karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menikmatinya. Pada zaman itu, Kotagede menjadi kawasan terkaya di Jawa Tengah sehingga banyak rumah-rumah yang sudah teraliri oleh listrik.

Namun, penggunaan listrik pada waktu itu hanya digunakan untuk penerangan saja. Alat komunikasi seperti radio masih jarang digunakan pada periode waktu tersebut.

Ketika daerah-daerah lain masih menggunakan lampu minyak, ketiga wilayah Babon ANIEM tersebut telah mendapatkan aliran listrik untuk kehidupan sehari-harinya. Babon ANIEM menjadi ikon penanda perkembangan teknologi di Yogyakarta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....