Tertinggal dari Tiongkok, Mahasiswa Diminta Berlomba-lomba Hasilkan Paten Riset

  • 21 Mei 2026 23:49 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menteri Hukum (Menkum) Supratman Andi Agtas, mengajak para mahasiswa dan sivitas akademika berlomba-lomba menghasilkan paten berdasarkan riset. Hal ini disampaikan Menkum saat memberikan sambutan pada Podcast Kementerian Hukum (Kemenkum) What's Up Campus Calls Out di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB.

"Kepada teman-teman mahasiswa dan sivitas akademika, terus lakukan riset, temukan inovasi dan paten. Kami akan lindungi, dan kami akan menjadi tenaga pemasar produk (dari hasil paten) teman-teman semua," ujar Supratman di Sabuga ITB, Bandung, Selasa, 12 Mei pekan lalu.

Supratman menegaskan, pihaknya berperan menengahi antara penghasil paten dengan industri terkait. "Kami memastikan dr sisi aspek administrasi, dan kita akan bikin ekosistem yg baik dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek, red)," ujar Supratman.

Mengutip ucapan Mantan Menteri Perdagangan, Gita Irawan Wirjawan dalam podcast pribadinya, paten menjadi barometer apakah suatu negara adalah negara maju atau tidak. "Cukup sederhana menilai suatu negara dikatakan negara maju atau tidak. Lihat saja jumlah kekayaan intelektual yang dihasilkan megara tersebut, khususnya paten," kata Menkum.

Menkum mencontohkan Negara Tiongkok. Negeri Tirai Bambu sudah hampir mengalahkan Amerika terkait paten. "Bahkan di bidang artificial intelligence (AI)/ kecerdasan buatan, Tiongkok memimpin dengan 25.000 paten di bidang AI, sedangkan Amerika diposisi tiga dengan 15.000 paten," ucap Supratman.

Lebih lanjut Menkum menginformasikan, bahwa Indonesia merupakan negara ke 15 di dunia yg menyediakan pendanaan dari Kekayaan Intelektual (KI). "Total sudah Rp10 triliun transaksi yang dihasilkan dari skema pendanaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan non-KUR dengan menjadikan sertifikat Kekayaan Intelektual (KI) seperti hak cipta, merek, atau paten sebagai agunan atau jaminan utang," katanya, memaparkan.

Terus berinovasi

Di akhir acara, Menkum kembali mengingatkan kepada teman-teman mahasiswa dan sivitas akademika untuk terus berinovasi dan menghasilkan paten. "Kepada teman-teman mahasiswa dan sivitas akademika, terus lakukan riset, temukan inovasi baru, negara hadir untuk kalian," ujar dia.

Sementara itu, menurut akademikus dan filsuf, Rocky Gerung, tidak mungkin ada paten tanpa riset, tanpa disertasi, tanpa kebebasan berfikir di kampus. "Kampus didesain sebagai tempat utk bertengkar pemikiran, berdasarkan argumen, bukan sentimen. Pikiran hrs berimplikasi pd kehidupan manusia. Disertasi yang bermanfaat dan bernilai ini kemudian dipatenkan," ucap Rocky.

Dirinya sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan Menkum dengan menyelenggarakan kegiatan podcast ini. Menurutnya, Menkum melakukan tindakan yang melebihi dari tugasnya sebagai Menkum. "Dengan kegiatan ini, Menkum merangsang kampus-kampus untuk bergerak lebih masif dalam menghasilkan paten dan kekayaan intelektual. Dan saya sangat mendukung intelectual property rights berdasarkan riset," kata Rocky.

Empat brain

Selanjutnya, Gita Wiryawan, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut mengatakan, dibutuhkan human capital management yang baik untuk melahirkan paten. Terdapat empat metode yaitu Brain Train, Brain Gain, Brain Sirculation, dan Brain Linkage.

Brain train digunakan Jepang setelah kalah perang dunia dua, dengan meningkatkan pendidikan lokal untuk menghasilkan paten. Kemudian, brain gain digunakan Australia untuk menghasilkan paten, dengan menggunakan pemikaran orang-orang dari berbagai negara yang belajar ke Australia untuk menghasilkan paten.

Yang ke tiga, brain sirculation dilakukan Tiongkok dengan mengirimkan sembilan juta mahasiswa untuk belajar di luar negeri, dan kembali untuk menghasilkan paten di negaranya. Dan yang terakhir brain linkage, dilakukan India dengan mengirimkan tujuh juta pelajar belajar ke luar negeri, dan berhasil menjadi pemimpin perusahaan multinasional di luar negeri.

"Indonesia mau yg mana? Kalau saya lihat, Indonesia saat ini lebih cocok brain gain, dan brain sirculation. Indonesia harus meningkatkan iq (intelligence quotient), pembentukan otak, dan demokratisasi pendidikan. Dengan demikian kekayaan intelektual Indonesia dapat meningkat dengan signifikan," jelas Gita.

Tidak kalah penting, lanjut Gita, adalah menghubungkan dunia akademisi dengan wirausaha, dan penegakan hukum. "Penegakan hukum sangat penting untuk mengundang investor, hukum jangan mudah berubah-ubah," tutup Gita.

Sedangkan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie. Menurutnya, jika Indonesia mau mencontoh Amerika dan Tiongkok, Indonesia harus dapat merespon pasar dan memimpin pasar dengan cepat, dan semua ilmu pengetahuan harus ada dan dikuasai, serta saling terkoneksi.

"Dan yang memimpin pasar adalah dosen. Contoh Google, Google lahir dari proyek doktoral Larry Page dan Sergey Brin, yang keduanya merupakan mahasiswa doktoral (PhD) ilmu komputer di Stanford University. Mahasiswa dan Dosen yg menghasilkan riset dapat menjadi pemimpin pasar," kata Stella.

Menurut Wamendiktisaintek, Indonesia masih memiliki tantangan, yaitu Kebebasan intelektual dan kebebasan finansial bagi sivitas akademika, dan ketersediaan informasi baik bagi pelaku riset dan pelaku usaha. "Tahun ini pemegang riset akan mendapatkan 25 persen pendapatan per bulannya. Mungkin masih tergolong kecil, tapi hal ini merupakan langkah awal perbaikan. Dan saat ini sudah ada website yg menginformasikan riset," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....