Fapet UGM Kembangkan Alat Potong Hewan Kurban yang Lebih Aman

  • 19 Mei 2026 09:21 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, YOGYAKARTA - Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) mengembangkan inovasi Gama Abilawa Portable Restraining Box. Alat yang digagas Profesor Panjono itu, ditujukan untuk mendukung kesejahteraan hewan dan efisiensi pemotongan ternak kurban.

Menurut Prof. Panjono, sebagian besar pemotongan sapi kurban di masyarakat masih dilakukan di luar Tempat Pemotongan Hewan (TPH) dengan fasilitas terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan ternak mengalami tekanan fisik dan psikis, meningkatkan risiko kecelakaan bagi petugas, serta menurunkan kualitas daging.

“Selama ini banyak pemotongan sapi kurban dilakukan di luar TPH dengan fasilitas terbatas," katanya, Senin, 18 Mei 2026. "Kondisi tersebut menyebabkan ternak mengalami tekanan fisik maupun psikis, meningkatkan risiko kecelakaan bagi petugas penyembelihan, serta menurunkan kualitas daging."

Di lapangan, sapi kurban sering sulit ditangani sejak proses penambatan, penggiringan, hingga perebahan dan pengikatan sebelum disembelih. Hal ini kerap memicu ternak mengamuk, terluka, bahkan menyebabkan kecelakaan pada petugas.

Portable restraining box dirancang agar sapi dapat diarahkan masuk dengan lebih tenang dan siap disembelih tanpa perlakuan yang tidak manusiawi. Desainnya portabel sehingga mudah digunakan di berbagai lokasi yang tidak memiliki fasilitas TPH.

“Kasus yang sering dijumpai di lapangan adalah kecelakaan petugas penyembelih maupun ternak yang mengalami luka akibat proses perebahan yang tidak tepat," ucapnya. "Dengan restraining box ini, sapi lebih mudah ditangani dan proses penyembelihan bisa dilakukan dengan lebih aman."

Pengembangan alat ini dimulai sejak 2019 dan terus disempurnakan berdasarkan evaluasi lapangan. Hasil kajian menunjukkan penggunaan portable restraining box mampu mempercepat proses pemotongan hingga 52,5 persen dan mengurangi jumlah personel yang dibutuhkan.

"Jika sebelumnya proses perebahan memerlukan banyak orang, kini cukup ditangani sekitar lima personel dengan risiko lebih rendah," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....