Waspadai Personal Branding Semu, Mahasiswa Perlu Utamakan Nilai dan Manfaat

  • 11 Mei 2026 13:39 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Fenomena personal branding di kalangan mahasiswa dinilai mulai bergeser dari upaya membangun kompetensi menjadi sekadar pencitraan digital demi popularitas di media sosial. Kondisi ini dinilai memicu tekanan psikologis hingga kelelahan identitas pada generasi muda.

Hal tersebut disampaikan Manajer Akademik Keilmuan Magister Informatika dan Dosen Jurusan Informatika Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Ahmad Luthfi, dalam webinar “Personal Branding untuk Mahasiswa Digital” yang digelar Program Studi Informatika Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) UII, Sabtu, 9 Mei 2026. Menurutnya, budaya digital yang serba cepat, menghadapkan mahasiswa pada tantangan berupa tekanan untuk terus tampil, mengejar engagement, hingga munculnya kesenjangan antara identitas daring dan kehidupan nyata.

Ahmad Luthfi menjelaskan bahwa setiap aktivitas di ruang digital kini membentuk persepsi publik terhadap seseorang. Unggahan, komentar, hingga jejak digital lain tidak lagi sekadar arsip pribadi, tetapi menjadi bagian dari identitas profesional mahasiswa di masa depan.

“Setiap unggahan, komentar, dan aktivitas digital membentuk persepsi tentang siapa kita. Karena itu personal branding tidak boleh berhenti pada pencitraan semata, tetapi harus dibangun di atas nilai dan karakter,” katanya.

Ahmad Lutfi dalam webinar tersebutmenyoroti tiga persoalan utama dalam fenomena branding modern, yakni over-exposure dan pencitraan semu, ketergantungan pada validasi berbasis jumlah likes dan followers, serta munculnya kesenjangan antara identitas online dan realitas kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memicu kelelahan identitas pada generasi digital.

Sebagai solusi, webinar ini menawarkan pendekatan personal branding berbasis perspektif insan ulil albab, yakni konsep yang mengintegrasikan zikir, fikir, dan amal dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan tersebut, branding tidak lagi dimaknai sebagai upaya membangun popularitas, melainkan representasi nilai, akhlak, kompetensi, dan kontribusi sosial.

Ahmad Luthfi menegaskan, mahasiswa digital perlu menggeser orientasi dari sekadar 'terlihat' menjadi 'bermanfaat'. Ia menilai ukuran keberhasilan personal branding bukan hanya pertumbuhan pengikut di media sosial, melainkan tingkat kepercayaan, kredibilitas, dampak, dan kemampuan berkolaborasi.

“Kompetisi sejati mahasiswa digital bukan tentang siapa paling terlihat, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat,” ucapnya.

Dalam implementasinya, peserta diperkenalkan pada tiga pilar utama personal branding mahasiswa digital, yaitu spiritual core, intellectual expression, dan social impact. Ketiga pilar tersebut diwujudkan melalui etika digital, kemampuan berpikir kritis, keberanian berbagi pengetahuan, hingga karya nyata yang memberi dampak bagi masyarakat.

Selain itu, webinar juga menekankan pentingnya etika digital, seperti melakukan verifikasi informasi sebelum membagikannya, menghindari toxic discourse, serta menjaga konsistensi antara identitas online dan kehidupan nyata.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu membangun kehadiran digital yang tidak hanya kuat secara personal, tetapi juga bernilai edukatif, etis, dan memberikan kontribusi positif di ruang digital.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....