Mengupas Asli atau Palsu di Dunia Digital

  • 01 Mei 2026 17:16 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Teknologi yang terus berkembang memberi kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses informasi atau berita. Di sisi lain, dampak positif ini ternyata juga memberi peluang kejahatan di dunia maya. Salah satu yang marak terjadi, penipuan yang mengatasnamakan teman atau anggota keluarga untuk mentransfer sejumlah uang karena kondisi mendesak, misal: sedang mengalami musibah kecelakaan dan harus memberi jaminan pada rumah sakit, mengaku dari pihak bank yang menyebutkan data nasabah dibobol, dan sebagainya.

Banyak masyarakat yang menjadi korban karena kurangnya pemahaman risiko dan tidak bisa melakukan langkah antisipasi. Untuk itu, perlu edukasi dan saling mengingatkan antar anggota keluarga terutama orang tua yang cenderung mudah panik bila anaknya mengalami musibah.

Hal ini terungkap dalam perbincangan dengan Gimun Solomon Yang, anggota Trade Compliance Leader untuk Multinational Corporation (MNC) di bidang teknologi dan kimia (posisi strategis yang bertanggung jawab memastikan seluruh aktivitas impor, ekspor, dan perpindahan barang/teknologi perusahaan mematuhi hukum perdagangan domestik maupun internasional). Anggota keluarga terutama orang tua sebaiknya memiliki kata sandi khusus atau pertanyaan dan jawaban yang hanya diketahui sesama keluarga. Saat ada penipu yang menyamar sebagai anggota keluarga, walau sangat mirip suara atau wajahnya, tanyakan sandi tersebut.

Misalnya,”Tahun lalu Papa pergi ke mana ya? Atau apa nama kucing di tempat nenek, dan lainnya. Bila penelpon ini bisa menjawab dengan tepat, maka yakin dia keluarga kita. Tetapi bila dijawab sedang kondisi darurat mengapa harus tanya pertanyaan tidak penting begitu, segera saja akhiri pembicaraan,” ungkap Gimun dalam perbincangan dengan RRI pada Selasa, 28 April 2026 lalu.

Saat ini teknologi Artificial Intelligence (AI) sudah semakin berkembang pesat. Suara nyaris sangat mirip manusia dengan desah napas, artikulasi dan intonasi yang sangat serupa dengan orang yang kita kenal berkat teknologi kloning suara AI. “Caranya, penipu akan telepon tetapi hanya diam saja. Saat kita menjawab halo, siapa ini, kok diam, dan seterusnya maka alat akan merekam suara dan nantinya diolah menjadi mirip suara penerima telepon. Inilah yang digunakan untuk kejahatan,” tambah Gimun yang saat ini berdomisili di Singapura.

Suasana perbincangan semakin marak saat pendengar yang bergabung dalam kanal Youtube dan RRI Digital menjawab contoh suara yang diputarkan. Tiga contoh suara yang mirip dengan suara orang biasa, yang ternyata ketiganya melalui proses teknologi AI. Semakin seru saat beberapa menjawab bahwa itu suara asli yang ternyata bukan. Diungkap oleh @Handywijaya yang menulis rekaman tersebut mirip suara istrinya.

Salah satu pendengar Chika di Godean bertanya cara membedakan suara pegawai bank yang asli atau bukan saat telepon ada kebocoran data nasabah. Saran Gimun untuk tanyakan dari cabang mana dan siapa namanya yang akan segera telepon balik ke bank tersebut. “Jangan pernah ikuti perintah melalui telepon tersebut karena bisa jadi rekening Bapak atau Ibu dibobol atau data nasabah dicuri alias phising. Tanyakan identitas penelpon dan Anda yang aktif untuk mencari nomor telepon bank yang resmi. Waspada mencari nomor telepon melalui mesin pencari. Beberapa penipu juga mencari mangsa dengan memasang nomor telepon layanan perbankan,” tambah Gimun yang pernah kuliah di Jogja.

Menutup perbincangan, Gimun memberikan tips agar tidak menjadi korban penipuan suara atau video. “Buat kalimat sandi antar anggota keluarga, jangan panik saat menerima telepon yang mengabarkan sedang tertimpa musibah. Rasa panik inilah yang dimanfaatkan penipu agar calon korban mematuhi keinginannya, lakukan kroscek dengan pihak bank bila itu menyangkut data nasabah. Semoga dengan cara ini terhindar dari penipuan,” tutup Gimun.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....