Robot Makin Canggih, Tak Semua Pekerjaan Bisa Digantikan
- 30 Apr 2026 22:30 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Perkembangan industri robot humanoid berlangsung sangat cepat. Saat ini, robot humanoid telah mampu berjalan, bergerak, hingga memainkan alat musik dengan tingkat presisi tinggi. Data resmi mencatat bahwa Tiongkok memiliki sekitar 140 produsen robot humanoid dengan lebih dari 330 model pada tahun 2025.
Ke depan, robot humanoid diperkirakan akan semakin intens berinteraksi dengan manusia, termasuk melalui ekspresi wajah dan respons emosional. Menanggapi fenomena ini, Dosen Departemen Teknik Mesin dan Industri FT UGM, Ardi Wiranata, S.T., M.Eng., Ph.D, menjelaskan bahwa perkembangan robot merupakan hasil evolusi panjang dari teknologi dasar, yakni mesin.
Ia menerangkan bahwa mesin berfungsi sebagai alat bantu manusia untuk mencapai tujuan tertentu, sementara robot merupakan bentuk lanjutan yang telah diotomatisasi untuk menjalankan tugas berulang dalam skala besar. “Mesin itu adalah alat yang dipakai untuk membantu kita mencapai sesuatu. Nah, robot sendiri merupakan mesin yang diotomatisasi guna membantu kita untuk mencapai sesuatu tadi dengan jumlah banyak,” ujarnya, Rabu, 29 April 2026.
Ardi menambahkan, kemampuan robot dalam menggantikan pekerjaan manusia sangat bergantung pada sektor dan kebutuhan industri. Ia menegaskan bahwa keberadaan robot tidak serta-merta menghapus peran manusia sepenuhnya.
Ia juga menyoroti sejumlah keterbatasan robot saat ini, seperti keterlambatan respons (lag) serta kemampuan pengambilan keputusan yang belum secepat manusia. Selain itu, robot tetap membutuhkan perawatan, perbaikan, dan pengawasan sistem, yang justru membuka peluang peran baru bagi manusia. “Kalau masih ada lag, responnya tidak akan secepat manusia dan pengambilan keputusan belum bisa secepat kita. Sebenarnya, produksi robot itu tergantung pada kebutuhan, kondisi, dan kebutuhan industri,” ucapnya.
Dalam hal risiko teknis, Ardi menilai bahwa kinerja robot humanoid sangat ditentukan oleh kualitas sensor dan sistem pemrogramannya. Ia menekankan bahwa tantangan utama dalam pengembangan robot terletak pada keterbatasan sensor. Dengan dukungan sensor dan sistem yang optimal, potensi kesalahan dapat diminimalkan sehingga lebih aman digunakan. “Tergantung ke sensor dan fungsi dari pemrogramannya. Jadi, memang perlu diperiksa dulu apakah sensor yang dipakai berbahaya atau tidak,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa efisiensi biaya produksi robot, seperti yang terjadi di Tiongkok, dipengaruhi oleh skala produksi massal. Produksi dalam jumlah besar memungkinkan biaya per unit ditekan tanpa mengurangi fungsi utama teknologi tersebut. “Di Tiongkok itu teknologi diproduksi secara massal. Dengan produksi massal tersebut, kemungkinan akan menurunkan cost production,” katanya.
Menurut Ardi, peran akademisi dan generasi muda sangat penting dalam menghadapi perkembangan robotika, terutama dengan memahami cara kerja dan penerapannya di berbagai sektor. Ia menegaskan bahwa tidak semua pekerjaan dapat digantikan oleh robot, karena masih banyak bidang yang membutuhkan interaksi manusia secara langsung. “Paling utama adalah kita harus sebisa mungkin beradaptasi dengan apapun jenis teknologinya,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....