Limbah Jelantah, Energi Alternatif Biodiesel yang Terlewatkan

  • 29 Apr 2026 22:04 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta - Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mendorong masyarakat untuk mencari alternatif energi yang lebih terjangkau. Bahan bakar alternatif yang saat ini bisa dikembangkan adalah biodiesel. Biodiesel sendiri merupakan bahan bakar nabati yang memiliki karakteristik mirip dengan solar, namun berasal dari bahan organik.

Dalam program Mbangun Ndesa yang disiarkan Pro4 RRI Yogyakarta, Guru Besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Karna Wijaya, mengatakan inovasi pembuatan biodiesel bisa dengan memanfaatkan limbah dapur, yakni minyak goreng bekas atau minyak jelantah.

“Penggunaan minyak jelantah dinilai lebih strategis karena memanfaatkan limbah yang sudah tidak layak konsumsi. Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi saat harga BBM naik, tetapi juga sebagai upaya menjaga lingkungan dengan mengurangi pembuangan limbah minyak goreng ke saluran air,” katanya.

Inovasi ini tidak hanya dikembangkan di laboratorium, tetapi juga telah disosialisasikan di berbagai daerah, mulai dari pesisir Pantai Depok, Bantul, hingga Kecamatan Baki di Sukoharjo. Prof Karna menyebut, di Sukoharjo, masyarakat memanfaatkan jelantah dari pedagang kaki lima untuk bahan bakar genset dan traktor guna menekan biaya operasional.

Meskipun skala kecil, hal ini bisa dilakukan oleh masyarakat , Karna menyarankan kapasitas ideal produksi desa adalah sekitar 100 liter per hari untuk mencapai efisiensi tekno-ekonomi yang baik. Salah satu kunci efisiensi lainnya adalah penggunaan katalis heterogen seperti kalsium oksida yang dapat digunakan kembali hingga lima kali proses produksi.

Karna menyebutkan proses pembuatan biodiesel ini termasuk kategori low technology sehingga sangat mungkin diterapkan oleh masyarakat awam. Peralatan yang dibutuhkan pun cukup minimalis, seperti reaktor sederhana berupa wadah pemanas, termometer, dan bahan kimia penunjang.

Ia mengatakan dengan pemanfaatan jelantah ini, diharapkan desa tidak hanya mampu mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga mencapai kemandirian energi di atas 60-70 persen, baik untuk kebutuhan listrik maupun bahan bakar transportasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....