Budidaya Maggot Jadi Program KKN Mahasiswa UNY di Kulon Progo

  • 03 Mar 2026 20:08 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Kulon Progo – Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) megajak masyarakat di Padukuhan Tegalrejo, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulonprogo untuk membudidayakan maggot Black Soldier Fly (BSF). Kegiatan ini dilakukan oleh mahasiswa KKNR Gen5 UNY.

Bubidaya maggot dipilih sebagai upaya edukasi pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal. Dalam menjalankan kegiatan sosialisasi dan praktik budidaya maggot, tim KKN UNY menggandeng narasumber Sus Endarto yang merupakan praktisi budidaya maggot BSF asal Sleman, DIY.

Sus Endarto dikenal sebagai penggerak pengelolaan sampah organik melalui maggot BSF. Ia juga sebagai pengembang integrated farming berbasis limbah rumah tangga dan limbah restoran.

Ia juga dikenal aktif memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang pemanfaatan larva Black Soldier Fly (Hermetia Illucens) sebagai solusi pengurai sampah organik sekaligus sumber pakan ternak berprotein tinggi. Dalam paparannya, Sus Endarto mengatakan bahwa 40 hingga 65 persen komposisi sampah rumah tangga merupakan sambah organik yang berpotensi diolah.

“Maggot BSF mampu mengurai sampah organik dua sampai lima kali bobot tubuhnya dalam 24 jam. Prosesnya relatif cepat, minim bau, dan menghasilkan residu berupa kasgot yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik,” ujarnya di hadapan warga.

Ia juga memaparkan siklus hidup lalat BSF yang mengalami metamorphosis sempurna, mulai dari telur, larva (maggot), prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Selanjutnya ia mengajak warga melihat tahapan penetasan telur, pembesaran maggot di biopond, hingga proses panen maggot dan pemisahan kargot.

Warga juga dikenalkan dengan potensi nilai ekonominya, mulai dari penjualan telur maggot, fresh maggot untuk pakan ikan, ayam, dan bebek, hingga produk turunan seperti maggot kering dan pupuk kasgot.

Ketua tim KKN, Avif Ananditya Prabowo, menyampaikan bahwa program ini dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat.

“Kami melihat persoalan sampah organik masih menjadi tantangan di Tegalrejo. Melalui sosialisasi dan praktik maggot BSF ini, kami berharap warga tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga mampu mempraktikkannya secara mandiri sebagai solusi lingkungan sekaligus peluang ekonomi,” ujarnya, Senin, 2 Maret 2026.

Menurut Avif, pendekatan praktik langsung dipilih agar masyarakat lebih mudah memahami proses budidaya. “Kami ingin kegiatan ini berkelanjutan. Harapannya, setelah KKN selesai, warga dapat membentuk kelompok pengelola maggot yang terintegrasi dengan peternakan atau pertanian setempat,” katanya menambahkan.

Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan seputar teknis pakan, perawatan, hingga pemasaran hasil panen. Beberapa warga bahkan menyatakan minat untuk memulai budidaya skala rumah tangga dengan memanfaatkan sisa dapur.

Kegiatan ini sejalan dengan komitmen pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui edukasi dan transfer pengetahuan kepada masyarakat, SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membuka peluang usaha berbasis pengolahan sampah, SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) melalui pengelolaan sampah ramah lingkungan di tingkat desa, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dengan mendorong pengolahan sampah organik menjadi produk bernilai tambah, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) karena pengurangan sampah organik turut menekan potensi emisi gas rumah kaca dari timbunan sampah.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UNY tidak hanya menghadirkan solusi inovatif pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran ekologis dan kemandirian ekonomi masyarakat desa. Kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan warga diharapkan menjadi langkah konkret menuju lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan di Tegalrejo, Hargowilis, Kokap.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....